Sonic the Hedgehog Adalah Contoh Cara Membuat Film Adaptasi Game yang Benar


Kalau masih ada pembaca Gimbot yang ragu ingin menonton film Sonic atau tidak, mudah-mudahan artikel ini bisa menghilangkan keraguan tersebut.

Film adaptasi dari video game sudah cukup lama punya stigma buruk di masyarakat. Sering kali film setipe ini bukannya berhasil jadi hiburan menarik, malah membuat penonton kecewa bahkan marah-marah. Herannya, para pembuat film tampaknya jarang belajar dari kasus yang sudah-sudah, kemudian akhirnya mengulang kesalahan yang itu lagi itu lagi.

Sesekali memang muncul film adaptasi game yang sukses. Namun jumlahnya masih relatif sedikit, dan setiap kali ada pengumuman pengangkatan game ke layar perak lebih sering penggemar akan skeptis duluan. Film Sonic the Hedgehog yang sedang tayang di bioskop saat ini merupakan bagian dari minoritas tersebut. Malah menurut Gimbot, Sonic the Hedgehog merupakan contoh adaptasi game yang sempurna, dan patut jadi acuan bagi film-film sejenis di masa depan.

BACA JUGA: Film Sonic the Hedgehog Raup Rp2,9 Triliun, Bisakah Lampaui Detective Pikachu?

Sebagus apa sih memangnya film Sonic the Hedgehog? Tidak perlu bertanya-tanya lagi, simak saja ulasan Gimbot di bawah dan langsung tepis semua keraguanmu.

Cerita dengan Visi yang Jelas

Faktor pertama yang sangat penting dalam membuat Sonic the Hedgehog menyenangkan untuk ditonton adalah film ini memiliki cerita yang arahnya sangat jelas. Memang plot yang diberikan tidak begitu canggih atau rumit, tapi terasa sekali bahwa sutradaranya yaitu Jeff Fowler dari awal memang tidak mengincar hal itu. Jeff Fowler justru berani menciptakan lore baru untuk Sonic yang tidak seratus persen sama dengan aslinya, dan mengangkat tema sentral “origin story” layaknya film-film superhero populer.

Sonic di film ini adalah alien, makhluk asing dari planet nun jauh di luar angkasa sana. Ia pergi ke bumi untuk bersembunyi dari pihak-pihak jahat yang mengincar kekuatannya, tapi ternyata di bumi ia menemukan masalah baru. Bersama seorang polisi bernama Tom Wachowski, Sonic harus mencari cincinnya yang hilang sambil menghindari kejaran Dr. Ivo Robotnik yang ingin menangkap dirinya.

Menariknya, meski Sonic punya kemampuan super yang sangat dahsyat, ada momen-momen di mana ia mengalami kesulitan dan harus mengandalkan bantuan dari Tom. Film ini menunjukkan bahwa tokoh utamanya bukanlah sosok yang sempurna. Ia juga memiliki kelemahan, emosi, konflik batin, dan dapat melakukan kesalahan. Tom menjadi partner yang melengkapi Sonic dan mengajarkannya cara melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda. Di sinilah kita dibawa masuk ke dalam tema yang kedua, yaitu persahabatan.

Satu hal penting lagi yang tak boleh diabaikan, adalah bahwa film Sonic the Hedgehog benar-benar konsisten untuk fokus pada karakter Sonic. Film adaptasi game sering kali melenceng dari hal ini, malah lebih banyak menampilkan tokoh-tokoh serta adegan di luar karakter utama game-nya. Sonic the Hedgehog tidak seperti itu. Dalam Sonic the Hedgehog ada banyak tokoh manusia, tapi film ini tidak pernah memberikan mereka porsi yang berlebihan. Lampu sorot selalu ada di atas Sonic (dan Dr. Robotnik selaku musuh utama), kalau pun bergeser ke posisi lain biasanya tidak untuk waktu yang lama.

Menjaga Identitas Material Aslinya

Aspek nomor dua ini nyaris saja tidak dicapai oleh Sonic the Hedgehog. Pasalnya, desain awal karakter Sonic (mungkin kamu sudah tahu) sangat aneh dan creepy, tidak sesuai dengan wujud Sonic yang selama ini kita kenal. Alasan di balik desain ini adalah karena para kreator filmnya memang punya visi untuk menggabungkan dunia Sonic dengan dunia manusia. Cukup logis bila mereka merasa bahwa desain Sonic harus dibuat lebih realistis, hanya saja desain awalnya memang tidak begitu bagus.

Untungnya Paramount Pictures bersedia mendengarkan kritikan penggemar, lalu memberi waktu tambahan untuk merombak desain Sonic. Desain akhirnya jadi lebih mirip Sonic versi 3D seperti kita lihat di game era modern, namun dengan satu pengecualian: Sonic harus tetap memiliki bulu. Untuk hal itu tim pembuatan Sonic the Hedgehog tidak bisa kompromi, karena Sonic tanpa bulu di dunia manusia akan terlihat aneh. Berkat bantuan dari ilustrator Tyson Hesse, akhirnya mereka bisa menemukan desain karakter yang imut dan masih terlihat menyatu dengan dunia realistis.

Menurut Gimbot, kemauan untuk “menghormati” material asli yang mereka adaptasi adalah kunci penting dalam kesuksesan film adaptasi game. Sebetulnya tidak hanya game saja, adaptasi dari medium apa pun juga memerlukan hal yang sama. Pembuat film boleh saja menciptakan hal baru, misalnya cerita baru, latar belakang baru, atau bahkan karakter baru. Tapi secara keseluruhan, identitas material aslinya harus tetap terjaga.

Selain dari desain, Sonic the Hedgehog juga berhasil mencapai hal ini lewat berbagai aspek lain. Kepribadian Sonic misalnya, mirip seperti Sonic versi game yang jenaka, usil, serta penuh percaya diri. Gerakan Sonic ketika berlari pun dibuat sama, lengkap dengan cahaya-cahaya biru yang mengekor di belakangnya. Hal yang sama juga berlaku dengan Dr. Robotnik, di mana akting dari Jim Carrey sangat cocok menggambarkan tokoh ilmuwan gila yang narsis, megalomania, dan terobsesi pada Sonic.

Ketika konflik terjadi, cara Sonic bertarung pun dirancang agar mirip seperti di dalam game. Dia tidak bertarung dengan memukul atau menendang musuh, malah film ini punya adegan yang menunjukkan kalau pukulan Sonic rupanya lemah tak bertenaga. Sebagai gantinya, ketika menyerang, Sonic akan menggulung tubuhnya menjadi bola, kemudian menabrakkan diri ke musuh-musuhnya. Persis Sonic asli yang kita kenal!

Suguhan Tersembunyi untuk Gamer

Masih banyak lagi hal-hal lain yang mungkin kecil, tapi berperan dalam membuat film ini terasa pantas menyandang judul “Sonic the Hedgehog”. Efek suara yang muncul ketika cincin milik Sonic terjatuh, kemunculan desain Sonic versi anak-anak yang mengingatkan kita pada game Sonic Generations, asal mula Dr. Robotnik mendapat nama “Eggman”, dan seterusnya. Pokoknya kalau kamu penggemar Sonic, banyak sekali momen yang akan membuatmu merasa, “Wah, ini kan seperti di game-nya!”

Sonic the Hedgehog juga menyimpan sejumlah referensi ke hal-hal yang berkaitan dengan kultur pop dan internet. Referensi itu tidak cuma ke kultur pop modern, tapi juga ke hal-hal yang populer di zaman dulu. Hebatnya, referensi tersebut diselipkan dengan cerdas sehingga menjadi bagian dari film yang natural, bukan asal muncul saja.

Penonton umum yang bukan gamer tidak akan merasa bahwa itu referensi ke sesuatu, tapi para nerd dapat merasakan sesuatu yang berbeda. Sepanjang film Gimbot jadi terus terpancing untuk berpikir, mengapa hal ini muncul? Mengapa Sonic melakukan hal itu? Mengapa ada background music begini? Rasanya seperti sedang membuka kado yang banyak sekali, kita tidak tahu apa saja isinya tapi sudah pasti merupakan kejutan yang menyenangkan. Gimbot yakin, tak butuh waktu lama untuk muncul kanal-kanal YouTube yang membuat video tentang referensi-referensi dalam film Sonic the Hedgehog.

Film adaptasi game itu sulit untuk dibuat karena kreatornya harus mampu menciptakan hiburan yang seimbang untuk dinikmati oleh penggemar dan bukan penggemar. Sudah banyak film yang gagal melakukannya, namun Sonic the Hedgehog berhasil dengan gemilang. Gimbot nyaris tak punya komplain tentang film ini, hanya sedikit sekali itu pun dapat ditoleransi. Film ini berhasil membuat Gimbot tertawa, tersentuh, bersemangat, dan merasa kembali ke masa kecil lagi.

Sonic the Hedgehog, dinilai secara artistik sebagai sebuah film, mungkin rasanya akan biasa saja. Karena itulah kalau kamu membaca-baca review dari media, banyak yang memberi skor pas-pasan. Sebaliknya, kalau kamu melihat kumpulan user score di situs seperti Metacritic dan Rotten Tomatoes, nilainya justru tinggi sekali! Jeff Fowler dan timnya paham sekali apa yang diinginkan penggemar, dan kesuksesan film ini merupakan bukti bahwa apa yang mereka lakukan sudah benar.

Jadi, tunggu apa lagi? Langsung pesan tiket di bioskop terdekatmu, lalu pergilah menonton Sonic the Hedgehog. Gotta go fast!


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Ayyub Mustofa

Jarang main game sampai tamat kecuali untuk review. Menyukai hampir semua genre, dan hingga kini masih menunggu kemunculan Megaman X9.