Sejak perayaan 10 tahun, Riot Games mengumumkan bahwa mereka akan gencar membuat game baru dan tidak hanya bergantung pada League of Legends. Sejauh ini mereka sudah menghadirkan VALORANT, Wild Rift, Legends of Runeterra, dan Teamfight Tactics yang jelas punya elemen kompetitif. Baru di tahun 2021 ini mereka akhirnya merilis dua game non-kompetitif, salah satunya adalah Ruined King.
Ruined King adalah game RPG yang berkisar pada kisah region dan beberapa karakter di dunia League of Legends. Tapi selain jadi potongan lore yang penting untuk dunia League of Legends, game ini juga punya beberapa mekanisme gameplay yang menarik. Sayangnya, ide tersebut kurang bersinar karena beberapa kelemahan non-teknis.
Selamat Datang di Bilgewater

Premis cerita di Ruined King sebenarnya cukup menarik: Sebuah wilayah di Bilgewater menunjukkan fenomena yang tidak biasa. Menanggapi itu, karakter League of Legends Illaoi dan juga Ms.Fortune berusaha menyibak fenomena tersebut, tapi dengan motivasi yang berbeda. Pada akhirnya mereka bekerja sama dan dibantu oleh empat karakter League of Legends lain.
BACA JUGA: 5 Game Baru Nintendo Switch Bulan Desember 2021
Sayangnya meskipun punya premis yang menarik, cerita di Ruined King jauh dari berkesan. Tidak hanya itu, cara premis tersebut dikembangkan via gameplay membuat cerita game ini jadi sedikit mengecewakan. Cerita Ruined King tidak pernah berkembang ke arah yang menarik, dan setiap perkembangan cerita harus kamu lalui dengan cara mencari sesuatu di dungeon yang cukup panjang. Setelah 10-20 menit bermain, kamu mungkin sudah bisa mengira-ngira apa yang akan terjadi tanpa mendapatkan kejutan sama sekali.

Jika kamu adalah penggemar berat League of Legends, kamu mungkin akan menemukan hal menarik seperti lore piece yang kamu temukan di overworld. Tapi di luar itu, cerita di Ruined King, meskipun tidak buruk, bisa dibilang tidak terlalu berkesan. Ini cukup disayangkan karena game ini punya karakter-karakter party yang menarik, musik yang bagus, serta grafis yang sangat enak dilihat. Tapi ceritanya membuat durasi gameplay Ruined King yang sebenarnya singkat (30 jam) terasa lama. Memperlihatkan cerita melalui still image ala komik dan visual novel juga membuat kurangnya impact cerita dalam game ini semakin terasa.
Gameplay Solid yang Tertutup Oleh UI

Untungnya gameplay Ruined King, terutama combat dan modifikasi karakternya. Tapi itupun jika kamu bisa memaklumi kekurangannya di UI dan tutorial.
Meskipun merupakan RPG dari barat, Ruined King menggunakan sistem turn-based combat yang lebih sering ditemukan di RPG Jepang. Tapi sistem ini punya sentuhan baru dengan mekanisme bernama lane.
Dalam combat, urutan serangan karaktermu dan musuh diperlihatkan dalam sebuah panel di bagian bawah layar. Ketika giliran karaktermu tiba, kamu bisa memilih melakukan serangan biasa yang instan, atau menggunakan skill yang akan mendorong giliranmu sedikit ke belakang. Tidak hanya itu, ketika menggunakan skill, kamu juga bisa menentukan varian speed atau power untuk skill tersebut. Speed memberikan efek yang lebih lemah, tapi skill tersebut keluar lebih cepat. Sebaliknya power punya efek yang lebih kuat tapi kamu harus lebih sabar menunggu.

Ketika bertarung, kamu juga selalu dihadapkan ke situasi yang unik seperti musuh yang punya buff/pasif yang bisa dihilangkan dengan skill power atau speed. Lalu ada juga buff atau hazard yang muncul di lane yang bisa kamu peroleh atau hindari dengan penggunaan skill atau serangan yang tepat.
Karakter-karakter di party-mu juga unik. Masing-masing punya skill set untuk fungsi yang spesifik mulai dari healer, tank, hingga jenis damage dealer yang berbeda. Satu faktor yang membuat keunikan ini lebih menarik adalah setiap karakter punya skill tree yang memberikan modifikasi tambahan ke skill mereka, serta Rune yang memberikan pasif tambahan. Ini membuatmu bisa membuat masing-masing karakter menjalankan peran yang spesifik untuk cara party-mu bermain.
Sebagai contoh, Braum bisa memberikan shield ke seluruh anggota party. Jika kamu ingin ia berperan hanya sebagai pemberi shield, kamu bisa menambahkan efek di mana anggota party yang memiliki shield mendapatkan buff tambahan.

Ditambah dengan sistem equip dan enhancement, Ruined King memiliki potensi party-building yang sangat luas. Ada banyak kombinasi party yang bisa kamu coba dengan berbagai macam karakter, setup, dan gaya bermain yang berbeda. Tidak hanya itu, modifikasi karakter ini juga bisa kamu ubah, jadi kamu bisa mencoba kombinasi dan party baru kapan saja.
Sayangnya potensi dan kualitas dalam combat dan party building ini tertutupi oleh UI yang menurut saya kurang. Pertama, lane yang jadi mekanisme utama dalam combat punya ukuran yang cukup kecil. Karena ukurannya yang kecil, potret karakter party-mu juga lebih kecil lagi. Ini kadang membuat kamu kesulitan membedakan di mana posisi karaktermu dan imbasnya menyulitkan proses pengambilan keputusan.
Tapi satu kekurangan yang lebih menjengkelkan lagi adalah bagaimana cara game ini mengajarkan semua mekanisme gameplay-nya ke pemain. Ruined King tidak mengajarkan mekanisme gameplay melalui praktek langsung, tapi melalui pop-up yang muncul ketika mekanisme tersebut diperkenalkan. Masalahnya adalah pop-up ini mayoritas hanya berisi teks, dan beberapa di antaranya terdiri dari tiga hingga lima kotak teks bahkan lebih.

Saya sendiri pada akhirnya lebih memilih mempelajari semua mekanisme dengan mencoba langsung. Tapi itu tidak membuat game ini berhenti menawarkan “sesi tutorial” setiap harinya. Padahal saya sudah menggunakan fitur/mekanisme yang sama berkali-kali.
Sebagai sebuah game RPG, Ruined King sebenarnya tidaklah buruk. _Game ini punya gameplay dan sistem combat yang menarik dan cukup seru terutama buat penggemar sistem turn-based combat. Sayangnya sebagai game yang diberi sebutan story-rich, game ini tidak memiliki cerita yang berkesan. Selain itu kekurangan di UI dan caranya memperkenalkan mekanisme permainan membuatmu mungkin harus sedikit bersabar dan membiasakan diri sampai akhirnya bisa menikmati gameplay yang ada.
