Nostalgia Review Digimon World 2: Dungeon Crawling Menjemukan Bersama Digimon


Siapa yang ingat pernah bermain game ini saat kecil dulu? Apakah kamu menamatkannya, atau kamu bosan karena penuh dengan grinding?

review-nostalgia-digimon-world-2-featured

Digimon World 2 adalah judul kedua dari seri Digimon World yang cukup populer di era Playstation. Tidak seperti pendahulunya yang lebih mirip tamagotchi dengan elemen RPG, Digimon World 2 mengajakmu melakukan dungeon crawl yang seolah tidak ada habisnya. Tapi tentu saja, kamu akan bertarung dengan Digimon yang kamu tangkap dan besarkan.

Sayangnya di antara tiga judul untuk seri ini, Digimon World 2 adalah yang paling buruk. Saya ingat memainkannya saat SD dulu dan tidak paham cara memainkan game ini dengan benar. Begitu sudah tumbuh besar dan mencobanya kembali, saya akhirnya paham dengan game ini. Tapi tetap saja, saya tidak bisa menamatkannya sama sekali.

Dungeon Crawling Bersama Digimon

review-nostalgia-digimon-world-2-cerita2

Dalam Digimon World 2, kamu adalah seorang kadet muda yang akan menjadi anggota pasukan pertahanan di dunia digital. Tugasmu sederhana yaitu melindungi kota dan duniamu dari ancaman Digimon atau orang jahat.

Kamu harus memilih satu dari tiga tim pertahanan yang tersedia. Masing-masing memiliki maskot Digimon dengan jenis Vaccine, Data, atau Virus yang kemudian akan jadi mitra kamu.

Digimon ini jugalah yang akan bertarung untukmu, dan nantinya kamu bisa menangkap Pokemon lain untuk melengkapi satu tim yang berisi maksimal tiga Digimon.

Kenapa Digimon harus bertarung? Well, karena untuk membasmi kejahatan kamu harus menelusuri dungeon berbentuk labirin yang berisi Digimon liar dan penuh dengan perangkap. Karena itulah kamu harus punya Digimon yang siap bertarung dan kendaraan mirip tank bernama Digi-Beetle untuk menelusuri tiap lantai dungeon ini.

review-nostalgia-digimon-world-2-dungeon1

Kendaraan tempur ini dilengkapi dengan sensor, senjata, dan berbagai alat tambahan lain untuk menavigasi labirin yang di akhir permainan bisa mencapai ratusan tingkat. Begitu mencapai lantai akhir dungeon, kamu biasanya akan menemui Digimon bos yang harus dikalahkan. Setelah itu kamu akan menemui pintu keluar dan menyelesaikan dungeon tersebut.

Ketika masuk dalam pertarungan, kamu akan memasang tiga Digimon yang kamu pilih untuk bertarung. Dengan sistem turn-based, kamu harus memilih gerakan yang akan digunakan masing-masing Digimon di ronde tersebut dalam bentuk panel menu.

review-nostalgia-digimon-world-2-tarung1

Setelah memilih gerakan untuk ketiga Digimon, masing-masing akan mengeluarkan gerakan yang kamu pilih. Siapa yang bergerak lebih dulu tergantung pada kecepatan Digimon atau jenis gerakan yang dilakukan. Setelah satu ronde selesai, ulangi proses yang sama sampai semua Digimon di salah satu sisi mati.

Oh, dan tentu saja Digimon yang kamu miliki bisa mendapatkan Experience melalui pertarungan. Dengan Experience yang cukup Digimon tersebut akan naik level. Lalu ketika menginjak level tertentu, Digimon kamu bisa berubah jadi Digimon yang lebih kuat.

Level/Dungeon Yang Menjemukan Dan Penuh Roadblock

review-nostalgia-digimon-world-2-dungeon2

Mengabaikan elemen ceritanya, gameplay loop utama di Digimon World 2 sebenarnya cukup sederhana. Telusuri dungeon, bertarung, tangkap Digimon atau buat Digimon kamu jadi lebih kuat, lalu masuk ke dungeon berikutnya yang lebih sulit. Cukup sederhana, bukan?

Sayangnya, loop tersebut sangat membosankan dan tidak menarik karena sangat banyak alasan. Pertama, semua dungeon terlihat sama dan tidak pernah terlihat menarik. Kamu akan selalu disuguhi dengan labirin yang terdiri dari dinding dan lantai biasa. Hal kecil yang berubah di labirin ini adalah dinding dan lantainya. Tapi saat tiap dungeon di late game terdiri dari 25 lantai atau lebih, kamu akan cepat jenuh dengan labirin ini.

Rintangan yang dihadirkan di tiap dungeon juga tidak lebih dari penghalang yang memastikan kamu membawa alat yang sesuai. Misal di satu dungeon kamu akan menemui jaring listrik yang harus kamu tembak dengan peluru khusus yang bisa kamu beli di kota. Tapi jika tidak membawanya, kamu harus kembali ke kota, membeli peluru tersebut, dan mengulang dari awal dungeon tersebut.

review-nostalgia-digimon-world-2-cerita1

Itu hanya satu dari banyak roadblock menjengkelkan yang bisa kamu temukan saat menelusuri tiap level. Contoh kedua misalnya, Digi-Beetle punya baterai alias jumlah langkah yang bisa diambil.

Memasuki level yang lebih sulit atau dalam, Digi-Beetle ini harus punya baterai yang lebih besar.

Untuk mendapatkan upgrade tersebut, kamu harus punya uang yang cukup. Jika tidak punya uang, berarti kamu harus mengumpulkannya dengan mengunjungi dungeon yang sudah kamu taklukkan dan mengalahkan Digimon liar yang mungkin sudah jauh lebih lemah dari Digimon yang kamu bawa.

Karena dungeon yang sudah ditaklukkan tidak pernah menyimpan misi atau konten rahasia, sesi grinding ini akan terasa sangat membosankan karena gerakan Digi-Beetle kamu sangatlah lambat. Belum lagi tiap pertarungan juga terasa sangat membosankan karena kamu harus menyaksikan atau menunggu animasi serangan tiap Digimon per ronde. Saya jamin, setelah beberapa jam kamu akan muak melakukan grinding atas tujuan apapun.

Grinding Yang Tidak Pernah Berakhir

review-nostalgia-digimon-world-2-evolusi2

Oke, kamu mungkin bisa menghindari grinding mencari uang dengan membuat rencana finansial yang baik. Tapi pada akhirnya di satu titik kamu harus melakukan grinding di labirin kosong yang tidak punya daya tarik sama sekali. Ini karena sistem evolusi Digimon dalam game ini memang menuntutmu untuk melakukan grinding tersebut.

Tiap Digimon memang bisa naik level dengan mendapatkan Experience via pertarungan. Tapi begitu menginjak Experience atau level tertentu, Digimon tersebut tidak bisa menerima Experience lagi. Artinya ia tidak akan bisa berubah atau jadi lebih kuat.

Digimon tersebut bukan berarti mati atau tidak bisa digunakan lagi.

Kamu bisa menggabungkannya dengan Digimon lain yang kamu miliki.

Ini akan memberikanmu Digimon baru yang ada di satu fase yang lebih kecil. Misal kamu menggabungkan dua Digimon Champion, kamu akan mendapatkan satu Digimon Rookie baru.

review-nostalgia-digimon-world-2-tarung2

Digimon baru ini akan punya atribut yang sedikit lebih kuat dan Experience maksimal yang lebih tinggi. Jadi ia tidak akan ‘mentok’ secepat Digimon kamu sebelumnya. Tapi Digimon tersebut ada di level pertama untuk fasenya alias level satu untuk Digimon Rookie, 11 untuk Champion, dan 21 untuk Ultimate.

Agar ia bisa berubah, kamu mau tidak mau harus melakukan grinding terlebih dahulu. Itu mungkin berarti mengabaikan progres cerita yang sedang berjalan karena kamu tidak punya Digimon yang cukup kuat untuk masuk ke dungeon berikutnya. Yup, kamu harus melakukan backtracking dan mengabaikan cerita utama atas kehendak game ini, bukan atas keputusanmu sendiri.

review-nostalgia-digimon-world-2-tarung-3

Jika grinding untuk mengumpulkan uang bisa dihindari, grinding untuk membesarkan Digimon tidak akan bisa dihindari dan akan terus terjadi. Memang, grinding untuk menaikkan level bukanlah hal yang baru untuk game RPG. Tapi di game ini ketika kamu TERPAKSA memiliki Digimon baru yang lebih lemah, kamu mau tidak mau harus melakukan backtracking ke dungeon yang lebih lemah.

Setelah itu, di satu titik Digimon kamu akan kembali mencapai level maksimalnya, kemudian kamu harus mendapatkan Digimon baru dan sekali lagi melakukan grinding. Semuanya dilakukan di dungeon yang sangat membosankan, sambil menyaksikan animasi pertarungan yang makin lama makin menjemukan.

review-nostalgia-digimon-world-2-evolusi1

Satu-satunya hal yang membuat proses grinding Digimon yang terus menerus ini terasa rewarding ada pada mekanisme Digivolution Point (DP). Tiap kali dua Digimon digabung, Digimon baru yang muncul akan mendapatkan tambahan satu DP.

Jika menginjak jumlah DP tertentu, Digimon tersebut akan berubah jadi Digimon yang berbeda dari sebelumnya. Contoh, Biyomon dengan DP nol akan berubah jadi Airdramon. Jika punya delapan DP, ia akan berubah jadi Birdramon. Tapi tentu saja kamu harus membuat satu Digimon melalui proses grinding dan re-grinding hingga delapan kali.


Saya tidak tahu kata yang tepat untuk mewakili game ini dalam bahasa Indonesia. Tapi dalam bahasa Inggris, saya rasa slogfest adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan gameini. Hampir semua proses yang kamu lalui di game ini terasa menjemukan karena mekanismenya yang tidak pernah berubah dan sengaja memblokir progres kamu tanpa alasan yang masuk akal. Cerita dalam game ini pun mudah dilupakan karena tidak menarik dan kamu mungkin sudah terlalu lama melakukan grinding dan lupa sampai mana progres cerita kamu.

Jika kamu bertanya kenapa saya memulai review seri ini dari Digimon World 2, alasannya adalah dari tiga judul yang ada, inilah yang menurut saya paling buruk. Kecuali kamu suka mengumpulkan Digimon keren melalui grinding yang panjang, saya tidak punya alasan apa-apa untuk merekomendasikan game ini. Bahkan saya yakin melewatkan beberapa poin yang layak dikritik di game ini.

Masih banyak game RPG dan collectible monster lain yang layak kamu mainkan.


Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Aukauk
Aukauk
September 1, 2023 7:33 am

Setuju. Proses grindingnya yang paling ngeselin sih

Kaoru

Hmmm...