Review Ghost of Tsushima – Epos Samurai yang Bantu Wujudkan Fantasimu!

Jadi pilih mana? Menghormati filosofi hormat Samurai, atau memilih jalan Ninja?


Disclosure: Ulasan Ghost of Tsushima ini menggunakan review copy resmi yang disediakan oleh Sony.


Ada alasan mengapa open-world menjadi mekanisme video game yang sudah terlalu cukup sering kita jumpai di pasaran. Dengan iming-iming eksplorasi latar dunia yang begitu luas, jenis permainan semacam ini menonjolkan urgensi pemain untuk memproyeksikan fantasi karakternya seleluasa mungkin.

Berkat inovasi teknologi gaming yang terus berkembang, semakin wajar jika permainan open-world menjadi cara paling mainstream untuk mengembangkan perilaku pemain sesuai penggambaran peran yang tersaji pada penokohan utama, entah itu sebagai koboi, hacker, samurai, ninja, dan sebagainya.

BACA JUGA: Ragam Hal Menarik yang Menghiasi Event Ubisoft Forward

Penerapan mekanisme game yang sudah cukup jamak seperti ini imbasnya ada pada struktur permainan open-world yang hampir semuanya mirip dan mudah dikenali pemain. Buntutnya, penerapan inovasi baru menjadi jualan yang wajib disuguhkan kepada pemain. Tidak lagi sebatas pada cerita dan latar saja, tetapi juga mekanisme lain yang menyertainya.

Beban untuk membawa inovasi yang tidak sebatas hanya pada cerita dan latar ini bisa dirasakan dalam Ghost of Tsushima, franchise game baru dari pengembang first party milik Sony. Andai saja karya terbaru Sucker Punch ini ditampilkan layaknya permainan open-world standar, dengan bulatan mini map kecil berisi aneka icon misi di ujung bawah layar, saya rasa game ini mungkin tidak akan jauh berbeda dari game sejenis yang sudah-sudah.

Ibarat Zelda: Breath of the Wild, inovasi yang disajikan Ghost of Tsushima memberikan angin segar yang cukup kencang bagi keberadaan game semacam ini di era gaming modern. Sekencang navigasi waypoint permainan open-world yang menjadi ciri khas dari game eksklusif terbaru untuk mesin PS4 satu ini.

Open-world yang Menghargai Rasa Penasaran Pemain

Sejak potongan detail gameplay-nya dipamerkan Sony melalui online event State of Play di bulan Mei kemarin, Ghost of Tsushima sudah mulai mencuri perhatian kita lewat penyajian eksplorasi dunianya yang cukup berbeda.

Seperti yang bisa kamu lihat melalui video di atas, game ini menawarkan mekanisme yang sangat minimalis, di mana keberadaan opsi mini map benar-benar dihilangkan dan tampilan UI-nya diminimalisir sekecil mungkin.

Tren game open world tanpa bulatan mini map semacam ini bukan sesuatu yang baru jika kamu sudah sering bermain game-game eksklusif keluaran Sony sebelumnya seperti Horizon Zero Dawn dan Death Stranding. Namun, Ghost of Tsushima mendorongnya secara lebih jauh lagi dengan mematikan poin indikator tujuan sebisa mungkin kecuali jika pemain benar-benar berada sangat dekat dengan obyektif permainan.

tidak ada elemen UI yang mengganggu pandanganmu di sini

Elemen display apapun yang terdapat dalam game ini dikemas agar tidak menyita bingkai fokus pemain di tengah layar. Alhasil, perhatian pemain dalam game ini akan lebih banyak tertuju pada detail dunia yang ada di sekeliling karakter mereka, terutama pada bagian hembusan arah angin yang menjadi waypoint penunjuk utama saat berjelajah.

Dari pengalaman Gimbot mengulas Ghost of Tsushima, cara navigasi gaya baru ini memberikan beberapa kelebihan sebagai berikut:

  • Atensi terhadap detail lingkungan yang lebih diperhatikan. Lapangnya tampilan play screen membuatmu terdorong untuk mengapresiasi setiap jengkal keindahan yang ada lewat fitur Photo Mode. Bahkan untuk momen sepele seperti adegan naik kuda atau saat duel melawan musuh sekalipun.
  • Niat eksplorasi semakin tertonjolkan. Game ini bahkan menyertakan indikator yang membaur dengan jarak pandang pemain untuk menggoda rasa penasaran mereka agar mendekat, mulai dari kepulan asap, hingga sisiran rumput yang menandakan jejak untuk keberadaan petunjuk misi berikutnya.
  • Ajang pamer efek partikel! Sebagai efek visual yang lumrah ditemukan di game modern, unsur partikel di sini benar-benar sangat ditonjolkan untuk mendramatisir setiap momen permainanmu. Beragam elemen seperti aneka jenis guguran daun, salju, hingga kunang-kunang membuat navigasi angin di game ini terlihat impresif.

Terlepas dari kelebihannya, Gimbot merasa fitur ini bisa menjadi tantangan kecil bagi para pemain yang selama ini dimanjakan oleh tampilan default dari penyajian game open-world pada umumnya. Tidak ada icon indikator pendukung di sini, yang ada hanya hembusan angin kencang yang mengiringi haluan pemain ke arah misi atau titik custom waypoint mereka berada.

Oleh karena itu diperlukan sedikit waktu bagi pemain untuk membiasakan diri dengan proses navigasi Ghost of Tsushima (dan kamu juga bakal lebih sering membuka peta untuk memosisikan arah waypoint angin tersebut). Tapi jika kamu sudah cukup terbiasa dengan cara penyajian waypoint ini, kamu akan sangat apresiatif terhadap cara game ini menghargai dunianya agar terkesan otentik di mata pemain.

Di samping aspek navigasi tadi, penyajian lingkungan open world game ini juga memiliki konten yang cukup padat. Reaksi kekhawatiran orang saat pertama kali melihat dunia Ghost of Tsushima yang “kosong” menjadi terpatahkan di sini karena ada beragam hal menarik yang bisa ditemukan (dan dilakukan) pemain di sepanjang permainan.

Aspek duel menjadi atraksi utama bagi mereka yang menghormati lawan

Dari kesan penyajian konten dan dunianya, Ghost of Tsushima mempresentasikan kecintaan tim Sucker Punch terhadap komik dan film klasik bertema Samurai Jepang. Sejak kamu dibebaskan bertualang, game ini seolah menyarankanmu meluangkan waktu untuk menjelajahi Tsushima dan menemukan sendiri apa saja hal yang ada di luar sana.

Kesan dunia Ghost of Tsushima yang awalnya “kosong” menjadi terpatahkan di sini karena ada beragam hal menarik yang bisa kamu temukan (dan lakukan) di sepanjang permainan

Gimbot pribadi enggan membeberkan detailnya secara rinci karena faktor discovery jelas menjadi jualan utama Sucker Punch di game ini. Yang jelas konten yang terdapat dalam Ghost of Tsushima terasa sudah ditakar sedemikian rupa agar tidak menjadi game action open world yang kelewat “gemuk dan melelahkan” seperti yang beberapa waktu lalu ada di pasaran.

Pilih Mana: Seni Menghormati Pedang atau Menjadi Bayangan?

Di game ini kamu bermain sebagai Jin Sakai, sosok samurai dari klan Sakai yang harus berjuang mengusir penjajahan Mongol dari pulau Tsushima di kawasan Nagasaki, Jepang. Setting game ini berdasarkan peristiwa peperangan Jepang melawan invasi Mongol di tahun 1274, namun dengan penggambaran tokoh fiktif dengan modifikasi plot di sana-sini.

Seiring jalannya cerita, Jin akan menghadapi dilema atas kode etik samurai yang justru membuat mereka semakin mudah ditebak oleh pihak Mongol. Untuk itu, Jin akhirnya terpaksa harus melepaskan kode etik samurai (yaitu selalu bertarung secara terhormat) dan menjadi sosok hantu yang disegani musuh-musuhnya.

Keseluruhan struktur cerita yang disajikan Ghost of Tsushima sebetulnya bisa ditebak, namun masih tetap saja menarik untuk diikuti karena selipan aksi pertempuran epik yang muncul di momen-momen puncaknya.

Intinya, ini bukan sekadar game tentang perjalanan Samurai jadi Ninja saja, tetapi juga soal pertempuran mengusir penjajah dengan dua cara berbeda dan pemain dibebaskan memilih cara yang mana. Apakah tetap menghormati filosofi membunuh dengan pedang (ala Samurai)? Memilih jalan Ninja? Atau justru menggabungkan kedua-duanya?

pilih mana: jadi Batosai atau Shinobi?

Sebagai penikmat game karya Sucker Punch sebelumnya, jujur Gimbot awalnya berharap adanya sistem konsekuensial seperti dalam serial InFamous, di mana terdapat dua jenis playthrough yang kamu pilih di tengah jalan untuk mempengaruhi reputasi pemain dan ending permainan.

Meskipun fitur tersebut vakum di Ghost of Tsushima, namun ketiadaan faktor konsekuensial tadi memberi keleluasaan lebih bagi kita untuk bermain peran apa pun, tanpa perlu mengkhawatirkan impact-nya terhadap cerita.

Pergantian peran Samurai atau Ninja ini membuat pemain bebas menentukan skill apa saja, sesuai gaya bermain mereka tanpa ada restriksi apapun. Dengan rutin menjelajahi isi peta, mengalahkan musuh, dan menyelesaikan misi (baik utama maupun sampingan), kamu akan mengumpulkan poin yang akan dipakai untuk meningkatkan skill Jin ke dalam dua aspek peran.

  • Dengan bermain peran layaknya seorang Samurai, kamu bisa menantang satu atau tiga musuh lebih untuk berduel layaknya aksi Kenshin Himura di anime Samurai X. Kamu bahkan bisa juga menghias tampilan Jin agar terlihat seperti ronin dari film klasik Akira Kurosawa, Yojimbo dan memilih spesialisasi stance pedang mana yang efektif untuk dipakai menghadapi lawan.
  • Sebagai Ninja, pemain akan berkutat dalam aksi tipikal stealth yang lebih taktis dan instrumental. Kamu bisa memakai bom asap, kembang api, panah, Kunai, serta grappling hook untuk memosisikan diri di atas lawan.

Aspek terbaik dari kebebasan peran ini adalah personalisasi karakter Jin Sakai yang bisa disesuaikan dengan fantasi masing-masing pemain. Gimbot memilih gabungan skill keduanya dengan tampilan Jin bertopi jerami yang hanya memakai serangan khas Ninja di saat kepepet saja. Selebihnya, Gimbot gemar sekali mengajak musuh untuk berduel pedang demi menyaksikan slow-motion dari penderitaan di wajah mereka.

Over-dramatisir di Mana-mana!

Menurut Gimbot Ghost of Tsushima bisa dibilang sebagai game open-world yang paling aktif mendramatisir adegan duel agar momen pertarungannya terlihat menawan di mata pemain.

Hal ini bisa menjadi pisau bermata dua di mata pemain. Di satu sisi bisa menjadi estetika keren yang membuatmu excited untuk terjun menyelami aksi berpedang tadi. Namun di sisi lainnya, membuat pemain tak sabar menunggu dan berharap ada tombol skip untuk lekas masuk ke inti duel pertarungan (meskipun cinematic kecil tersebut hanya berlangsung di awal saja).

Faktor dramatisir yang Gimbot maksud berada pada bagian duel pedang lawan bos yang bisa kamu jumpai di bagian misi utama, misi sampingan, dan lainnya. Dalam review build Ghost of Tsushima yang Gimbot mainkan, pemain juga tidak diberikan opsi untuk melakukan skip semua cutscene percakapan, sehingga kita terpaksa harus benar-benar memperhatikan.

Keluhan minor ini mungkin ke depannya akan diantisipasi Sucker Punch lewat fitur skip permainan, agar kamu bisa lekas berduel pedang melawan bos atau melompati percakapan. Namun hingga saat itu tiba, setidaknya kamu perlu berdamai sejenak dengan bagian-bagian tersebut.

peletakan kamera harusnya dioptimalkan juga di percakapan side quest

Berbicara soal kekurangan, hal lainnya yang bisa menjadi sorotan adalah tata letak kamera yang terkadang menempatkan pemain di posisi tak menguntungkan, apalagi jika kamu bertarung frontal melawan gerombolan musuh tanpa melibatkan aksi stealth sama sekali.

Dalam beberapa momen pertarungan, seringkali perputaran kamera dan zoom out game ini terhalang objek sekitar (seperti tenda musuh) sehingga mau tidak mau, kita harus “kabur” sejenak untuk memosisikan Jin di posisi yang lebih baik lagi saat dikeroyok lawan.

Di samping itu, cutscene percakapan dengan NPC di sejumlah bagian permainan terlihat timpang dari segi kualitas dan penempatan kamera, khususnya ketika pemain berada dalam misi sampingan. Ada beberapa adegan cutscene misi sampingan yang menurut Gimbot bisa dioptimalkan di sini, akan tetapi Sucker Punch seolah tidak ingin ambil pusing untuk mendramatisir percakapan itu dan lebih memilih penempatan kamera static yang terkesan seadanya.

Presentasi Tajam Bak Katana

tebas lawan dan aktifkan Photo Mode untuk sesi pemotretan singkat

Di luar pembahasan aspek dramatisasi tadi, struktur misi yang tersaji dalam Ghost of Tsushima sebetulnya juga tidak banyak memberi gebrakan berarti dalam pola inovasi permainan sejenis. Sama seperti format game open-world umumnya, di sini pemain akan berpindah dari titik A ke B guna melakukan beragam hal yang sudah tergolong klise, namun masih tetap saja efektif untuk memberikan urgensi bagi pemain.

Meskipun demikian, sajian misi dalam Ghost of Tsushima tergolong cukup variatif dan dikemas dengan sangat baik berkat presentasi audio visual yang sudah tidak perlu diragukan lagi untuk ukuran game first party terbitan Sony Interactive Entertainment.

Aspek visual game ini bisa dibilang sangat imersif, bahkan hingga ke bagian paling detail sekalipun. Dalam kasus tertentu, aspek teknikal game ini bahkan memperlihatkan elemen debu dari serbuk tanaman yang menempel ke baju Jin. Perhitungan akan detail serupa juga akan kamu saksikan pada bagian kain yang basah terkena air dan ongokan serpihan salju di kepala Jin.

Penyajian aspek lainnya seperti musik dan elemen suara yang menghiasi latar Ghost of Tsushima juga tak luput dari perhatian Sucker Punch. Pengambilan latar musik oriental Jepang dipadu dengan suara pedang dan beragam efek lainnya yang otentik cukup membuat Gimbot terkesan dengan keseluruhan package game ini.

tangan Jin bahkan bereaksi atas rerumputan yang ditiup angin

Bagian terbaiknya lagi, jika aspek dramatisasi permainan tadi menjadi hal yang juga kamu cari dalam sebuah game, Ghost of Tsushima memberikan fitur Kurosawa Mode untuk memberikan sedikit pengalaman berbeda saat kamu bermain.

Mode gambar “hitam putih” ini bukan cuma asal melemparkan filter dan efek film grain ke dalam layar permainan kamu. Dalam Kurosawa Mode, indikator combat dan aspek navigasi angin sedikit diubah untuk memberikan momen permainan yang lebih dramatis dibandingkan versi normal. Tidak hanya itu, faktor audio game ini juga dibuat sedemikian rupa agar terkesan seperti efek suara perangkat mono.

Singkat cerita, bermain dengan mode Kurosawa aktif dan pengaturan bahasa Jepang cukup mengubah pengalaman bermain Gimbot saat mengulas Ghost of Tsushima.

Kesimpulan

mode Kurosawa memberi penyegaran estetik bagi pemain

Penggemar permainan open-world sepertinya tidak akan kekurangan judul game menarik untuk dimainkan dan dikoleksi untuk tahun 2020 ini. Dengan dirilisnya Ghost of Tsushima, setidaknya gamers bisa menjumpai pengalaman berbeda lewat penyajian sistem navigasinya yang cukup unik dan berani melepas rasa keingintahuan pemain.

Di luar inovasi tersebut, game ini masih meneruskan tradisi permainan open-world modern mulai dari struktur misi yang sama hingga restriksi cerita yang tidak membebaskan peran pemain seutuhnya. Pada akhirnya, takdir Jin Sakai sendiri tidak didikte oleh apa yang dilakukan sang pemain, inti game ini lebih kepada seberapa bersenang-senangnya kamu ketika didikte jalan cerita konflik Ghost of Tsushima itu sendiri.

Perumpamaan ini bisa jadi kabar kurang mengenakkan buat pemain yang punya ekspektasi berlebih kepada inovasi game open world di Ghost of Tsushima.

Kabar baiknya. Gimbot sendiri bersenang-senang dengan game ini dan berharap semoga kesenangan yang sama bisa juga dirasakan pula olehmu, apalagi jika kamu sedang menginginkan hiburan bernuansa epos samurai-ninja. Untuk hiburan jenis “power fantasy” semacam ini, Ghost of Tsushima bisa Gimbot pastikan tidak akan mengecewakanmu.

Beli Ghost of Tsushima di sini


Gimbot

Gimbot adalah platform informasi game di Indonesia, kamu bisa menemukan konten seperti berita, review, dan guide seputar game menarik di sini. Kalau kamu punya saran, kritik, pertanyaan, atau penawaran kerja sama, jangan sungkan untuk menghubungi kami di hello@gimbot.com ya!