Pernahkah kamu membayangkan bagaimana jadinya jika game brick breaker klasik seperti Arkanoid (atau juga Pong) menerapkan sistem metaprogression ala Vampire Survivors, lalu dibumbui manajemen kota ala SimCity versi ringan? Hasilnya adalah suguhan roguelite yang adiktif bernama Ball X Pit.
Premis Ball X Pit sendiri cukup sederhana: Kamu di sini mengendalikan karakter yang berjuang menghadapi barisan monster yang berdatangan dari atas layar. Karaktermu bertindak sebagai “alat pelontar” bola yang menjadi satu-satunya alat untuk menghadapi invasi monster di layar vertikal yang sekilas mengingatkan Gimbot akan genre game shoot-em up klasik. Jika kamu kalah, maka kamu akan memulai stage tersebut dari nol.
Di sini musuhmu akan menjatuhkan orb experience yang kamu perlukan untuk proses leveling karakter. Setiap naik level, kamu mendapat opsi untuk memilih power-up acak yang akan membantu agar karaktermu bertambah kuat, atau memilih “bola besar” mana lagi yang bisa kamu gunakan sebagai senjata utamamu.
Kombinasi loop ala roguelite, Arkanoid, dan Dopamin

Meskipun gameplay-nya sederhana, namun faktor simplicity inilah yang menjadi fokus letak kecanduan utama Ball X Pit. Game ini mendorong pemain untuk bereksperimen lewat sistem Ball Fusion.
Kamu bisa menggabungkan bola api dengan bola racun, atau bola laser dengan bola bouncy. Kamu juga bisa menggabungkan bola pemecah bola dengan bola cloning. Hasilnya? Layarmu akan penuh dengan ledakan warna-warni dan angka-angka damage pun mulai beterbangan.
Karakter yang kamu kendalikan juga memiliki skill mereka masing-masing. Kamu bisa saja memakai karakter mitos Yunani Kuno Sisyphus untuk menghapus keberadaan bola-bola kecil demi serangan area of effect (AoE) bola yang lebih menyakitkan, atau melontarkan bola dari atas (bukan lagi dari bawah) sebagai Assassin. Yang lebih menariknya lagi, kamu juga bisa menggabungkan dua karakter ini di tengah-tengah perjalanan game kamu nanti.
Kombinasi segala faktor RNG ala roguelite ini tadi bisa saja memberi kamu combo dewa yang membuat pemain merasa tak terkalahkan, atau justru membuat mereka berada di posisi sulit yang bikin cepat mati di wave ke-3. Frustrasi? Pasti. Tapi rasa penasaran “gimana kalau kita mencobanya lagi?” inilah yang menjadi basis sesi permainan Ball X Pit.
Istirahat sejenak jadi walikota

Di sela-sela sesi pembantaian monster, kamu akan kembali ke permukaan untuk membangun ulang sebuah kota New Ballbylon. Setiap resource yang kamu kumpulkan di Pit akan dipakai untuk membangun toko senjata, laboratorium, atau rumah untuk unlock karakter baru di sesi bermain selanjutnya. Beberapa bangunan tadi bahkan memberikan buff permanen, seperti menambah jumlah health, mempercepat gerakan karakter, atau memberikan pilihan bonus awal bagi pemain.
Jujur saja, Gimbot awalnya skeptis. “Ngapain ada city building di game aksi lontar bola?” Ternyata, ini adalah selingan yang sempurna untuk menyeimbangkan hectic-nya aksi permainan Ball X Pit. Keberadaan fitur city building di sini seakan memberikan gambaran progression yang nyata. Jadi meskipun kamu gagal total di dalam Pit (entah karena skill issue atau faktor luck), setidaknya kamu pulang membawa sedikit kayu dan uang untuk membangun tembok kota. Jadi, tidak ada usaha yang benar-benar sia-sia.
Tentu saja, tidak ada mekanisme game yang sempurna. Di pertengahan game, Gimbot merasa harga upgrade bangunan di kota mulai terasa mahal tidak masuk akal sehingga dipaksa melakukan run berkali-kali (grinding) hanya untuk menaikkan stat damage bola sebesar 5 persen.
Presentasi yang ok, tergantung selera

Ball X Pit mengadopsi visual yang cocok untuk mendeskripsikan sebuah game 3D arcade. Presentasi game ini menekankan kejelasan visual yang mudah dibaca, tanpa harus mengorbankan kontras, geometri, dan faktor informasi permainan lainnya. Namun seiring dengan makin brutalnya aksi melontar bola, Gimbot sering menjumpai elemen visual clutter yang mungkin saja akan mengganggu sebagian pemain.
Seringkali, Gimbot kehilangan kursor atau posisi karakter sendiri di tengah pesta kekacauan Ball X Pit. Bagi kalian yang mudah pusing atau punya masalah dengan fotosensitif, game ini mungkin agak berat di mata. Untungnya setting option dalam game ini membolehkan kita untuk mengatur aspek visual seperti informasi damage number, dan lain-lain.
Keberadaan mode “High Contrast” atau opsi untuk mengurangi efek partikel sangatlah membantu, apalagi jika Ball X Pit dirilis ke platform mobile (mengingat posisi skema permainannya yang vertikal terasa cocok untuk dimainkan di layar smartphone).
Kesimpulannya: Beli atau tidak?

Ball X Pit adalah definisi yang cocok untuk menggambarkan model game “Main satu ronde lagi saja”. Game ini menggabungkan kepuasan instan memecahkan susunan batu bata ala Arkanoid dengan ketegangan permainan roguelite, lengkap dengan metaprogression untuk membantu player agar semakin jago di sesi selanjutnya. Mekanisme permainannya memang sederhana (bahkan untuk dipahami kakek atau nenek kamu), tapi cukup mendalam untuk membuat hardcore gamer berpikir dalam strategi leveling permainan mereka.
Jika kamu suka game seperti Peggle, Vampire Survivors, atau sekadar butuh pelampiasan menghancurkan ratusan bahkan ribuan musuh dengan bola Pong, game ini wajib masuk koleksimu.
Mainkan jika:
– Kamu punya device UMPC seperti ROG Ally, atau Steamdeck,
– Kamu mencari hiburan singkat untuk dimainkan di jeda waktu beristirahat,
– Kamu seorang gamer dad yang ingin bernostalgia memainkan game brick breaker
Pikir dulu jika:
– Backlog game kamu sedang banyak-banyaknya,
– Sedang fokus menyelesaikan battle pass game live service tertentu (karena Ball X Pit akan jadi distraksimu selanjutnya)
