Kehadiran Indonesia Game Rating System (IGRS) di platform Steam yang seharusnya menjadi langkah tertib administrasi, justru memicu kontroversi panas di kalangan gamer tanah air.
Di atas kertas, IGRS menawarkan klasifikasi usia yang cukup detail, mulai dari kategori 3 tahun hingga status paling ekstrem, yaitu RC (Refused Classification) atau penolakan klasifikasi.
Namun, dalam praktiknya di lapangan, standar kurasi yang diterapkan oleh tim penilai IGRS dinilai sangat cacat logika dan tidak konsisten, hingga mengundang tanda tanya besar mengenai kompetensi di balik layar penilaian tersebut.
Salah satu kasus yang paling konyol adalah status RC yang dijatuhkan pada game Metaphor: ReFantazio. Game RPG besutan Atlus yang dikenal membawa narasi kritik politik yang cerdas dan mendalam ini justru “dicekik” habis-habisan, seolah-olah membawa konten yang membahayakan negara.

Padahal di saat yang sama, komunitas menemukan fenomena yang jauh lebih meresahkan: sejumlah game dengan muatan kekerasan brutal hingga game kategori eroge (konten dewasa) justru berhasil meloloskan diri dengan label rating untuk anak balita.
Anomali ini menunjukkan bahwa proses kurasi IGRS saat ini tampak dilakukan secara serampangan tanpa pemahaman mendalam terhadap isi konten game yang dinilai.

Kekacauan standar penilaian ini dikhawatirkan akan memberikan dampak negatif jangka panjang bagi ekosistem gaming di Indonesia.
Jika game-game berkualitas dengan tema dewasa yang matang justru dilarang, sementara konten yang benar-benar berbahaya bagi anak-anak malah diberi lampu hijau, maka fungsi perlindungan dari sistem rating ini menjadi sama sekali tidak berguna.
Stuasi ini menjadi pengingat bahwa penerapan regulasi tanpa edukasi dan kurasi yang tepat hanya akan menjadi penghambat kemajuan industri. Harapannya, otoritas terkait segera melakukan evaluasi total terhadap standar IGRS sebelum sistem ini kehilangan kredibilitasnya sepenuhnya di mata para gamer Indonesia.
