Pengakuan mengejutkan CEO Epic Games, Tim Sweeney, bahwa launcher Epic Games Store masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna seolah menjadi pembenaran atas keluhan para gamer selama bertahun-tahun.
Saat Sweeney mengakui secara terbuka bahwa platformnya masih “kurang memuaskan,” ia sebenarnya sedang menyentuh luka lama para pemain PC yang terbiasa dengan kemudahan di Steam. Kejujuran ini memicu kembali perdebatan panas: seberapa jauh sebenarnya ketertinggalan EGS sehingga sang bos sendiri harus angkat bicara?
Baca Juga: Pengakuan Mengejutkan, Bos Epic Games Sebut Launchernya Sendiri Masih Jauh dari Sempurna
Faktanya, meski rutin memanjakan pemain dengan game gratis tiap minggu, EGS masih gagal memberikan pengalaman pengguna yang selevel dengan standar industri saat ini.

Salah satu alasan mengapa EGS sering dicap “sampah” adalah performa teknis aplikasinya yang terasa sangat berat dan boros sumber daya. Banyak pengguna mengeluhkan loading time yang lama hanya untuk membuka library, serta penggunaan RAM yang membengkak padahal aplikasi hanya berjalan di latar belakang.
Berbeda dengan Steam yang kini sudah sangat teroptimasi dan ringan, EGS terasa seperti aplikasi berbasis web yang dipaksakan, sehingga transisi antar menu terasa lambat dan kaku.

Masalah teknis ini semakin diperparah dengan absennya fitur-fitur fundamental yang sudah dianggap standar di Steam, seperti sistem overlay yang stabil, fitur screenshot yang terintegrasi, hingga dukungan cloud save yang sering kali tidak berfungsi secara otomatis di beberapa judul game.
Lebih dari sekadar toko, Steam telah berhasil membangun sebuah ekosistem sosial lewat fitur Steam Workshop dan forum komunitas yang hidup. Di sisi lain, EGS masih terasa sunyi dan dingin karena minimnya fitur interaksi antar pemain.

Ketidakhadiran sistem review pengguna yang bebas (tanpa moderasi ketat dari pihak ketiga) juga membuat pemain sulit mendapatkan gambaran jujur mengenai kualitas sebuah game langsung di halaman toko.
Meskipun Tim Sweeney menjanjikan optimasi besar-besaran untuk memperbaiki kecepatan dan fitur sosial, tantangan terbesarnya adalah mengubah stigma negatif yang sudah melekat. Selama EGS hanya mengandalkan “suap” game gratis tanpa memperbaiki kenyamanan fundamental aplikasinya, Steam akan tetap menjadi penguasa absolut di hati para gamer PC.
