Mirror’s Edge, Game Parkour First Person yang Tidak Ada Duanya


Hingga hari ini, tidak ada game yang menghadirkan pengalaman platforming first person kecepatan tinggi seperti Mirror's Edge.

nostalgimbot-mirrors-edge-featured

Platforming tiga dimensi memang bukan genre yang asing di dunia game saat ini. Hari ini, sudah sangat banyak game yang menganut genre ini. Tidak hanya itu, game yang memiliki elemen platforming tiga dimensi juga jauh lebih banyak lagi.

Meskipun begitu, tidak banyak yang mencoba menggabungkan dua hal yaitu platforming tiga dimensi dan perspektif first person. Namun ada satu game yang tidak hanya mencoba paduan itu, tapi juga membawa revolusi baru ke platforming tiga dimensi. Game tersebut adalah Mirror’s Edge.

Ide Unik Dengan Implementasi yang Keren

Dikembangkan oleh Dice dan dirilis oleh EA di paruh kedua tahun 2000-an, Mirror’s Edge adalah buah dari upaya EA dan studio-studionya untuk membuat judul/IP baru. Judul yang paling membekas sebenarnya adalah Dead Space, tapi satu lagi game yang juga menarik perhatian adalah Mirror’s Edge.

Kalau harus dijelaskan secara singkat, Mirror’s Edge adalah game first person platformer yang terinspirasi dari olahraga parkour. Gameplay utamanya adalah bergerak dari satu tempat ke tempat lain menggunakan teknik parkour. Sepanjang permainan kamu akan berlari secepat mungkin, melewati rintangan dengan gerakan seperti sliding atau wall jump, lalu melompati lubang dengan wall-ride atau melontarkan diri dengan bantuan objek sekitar.

Mirror’s Edge langsung menarik perhatian karena gameplay-nya yang sangat cepat dan saat itu tidak pernah dijumpai di game manapun. Ketika dimainkan, kamu dijamin akan merasa benar-benar melakukan parkour.

nostalgimbot-mirrors-edge-jump

Meskipun punya core gameplay yang sederhana, Mirror’s Edge punya banyak hal yang layak diacungi jempol. Pertama, mekanisme parkour-nya memang mengandalkan kecepatan dan momentum karaktermu. Artinya kamu tidak bisa sembarangan melewati rintangan tertentu tanpa berlari atau memiliki momentum kecepatan dari awal. Lalu agar kamu tidak ‘capek’ karena terus disuguhi level dengan adrenalin tinggi, sesekali kamu juga akan mendapatkan level yang lebih mengarah ke puzzle.

Mekanisme momentum ini juga ditekankan lewat desain levelnya yang beragam. Karena latar utamanya adalah gedung-gedung pencakar langit, kamu akan sering melompati atap gedung yang jelas tidak bisa dilakukan tanpa lompatan dengan ancang-ancang. Tidak hanya itu, beberapa levelnya juga memintamu mengejar atau sebaliknya dikejar oleh NPC.

Artinya dalam beberapa level kamu dituntut untuk terus bergerak sambil melihat sekitar dan menemukan ke mana kamu harus bergerak.

nostalgimbot-mirrors-edge-level

Tuntutan itu diseimbangkan dengan presentasi visualnya yang unik.

Saat mayoritas game condong memiliki warna yang gelap, gedung-gedung di Mirror’s Edge mayoritas berwarna putih dengan sedikit warna merah, oranye, biru, dan hijau. Kecuali warna hijau yang digunakan untuk interior, warna-warna tersebut berfungsi sebagai petunjuk arah. Merah sendiri secara khusus digunakan sebagai runner’s vision alias petunjuk objek yang kamu gunakan untuk berpindah tempat. Misal ketika akan akan melompat dari satu gedung ke gedung sebelah, kamu akan melihat kotak yang bisa kamu gunakan sebagai launcher untuk melompat jauh. Begitu juga jika ada pipa yang bisa kamu panjat, atau dinding yang bisa kamu wall-ride.

Warna-warna yang kontras di tengah gedung-gedung putih ini membuat Mirror’s Edge mampu mengarahkan pemain tanpa harus menggunakan minimap. Sisanya adalah tugas pemain yang harus menelaah sekitar dan mengidentifikasi petunjuk warna yang ada, sambil sekali lagi terus bergerak.



nostalgimbot-mirrors-edge-vision

Terakhir, meskipun total durasi gameplay-nya sangat singkat, Mirror’s Edge tetap seru untuk dimainkan berkali-kali. Ini karena meskipun memberikan petunjuk arah dalam bentuk objek berwarna, setiap rintangan dan level dalam permainan punya lebih dari satu cara untuk dilewati. Tidak hanya itu, karena game-nya sangat menuntut eksekusi yang presisi dan kecepatan dari pemainnya, kamu sebagai pemain tentu ingin bisa melewati satu level dengan lebih lancar dan cepat. Ini juga lebih ditekankan lagi lewat mode time trial yang disertakan dengan leaderboard online.


Tentu saja, Mirror’s Edge juga punya beberapa kekurangan. Gameplay-nya yang singkat mungkin tidak memikat untuk pemain casual. Ceritanya juga kurang berkesan, dan elemen combat yang ada juga seolah dipaksakan. Sebagus apapun upaya Dice dan EA untuk meminimalisi efeknya, akan tetap ada pemain yang merasakan motion sickness dan tidak akan bisa mencoba game ini. Sekuelnya, Mirror’s Edge Catalyst, justru menjauh dari formula pendahulunya dan menyertakan elemen free roam/open world dan pada akhirnya tidak terlalu sukses.

Memang, Mirror’s Edge sendiri juga tidak mendatangkan angka penjualan besar yang diharapkan oleh EA. Meskipun begitu, hingga hari ini tidak ada game yang menyajikan pengalaman platforming tiga dimensi dengan perspektif first person seperti Mirror’s Edge.


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Kaoru

Hmmm...