Mantan Presiden dan CEO PlayStation, Shawn Layden, memberikan sorotan tajam terhadap arah perkembangan industri game modern. Dalam pernyataan terbarunya, ia mengkritik tren pengembangan game berdurasi sangat panjang yang dinilai mulai tidak relevan dengan profil demografis pemain saat ini.
Layden menyoroti bahwa industri game sering kali terjebak dalam perlombaan untuk menciptakan konten yang semakin luas dan durasi bermain yang mencapai ratusan jam. Ia menggunakan Red Dead Redemption 2 sebagai contoh kasus, mencatat bahwa judul tersebut memerlukan waktu sekitar 88 jam untuk diselesaikan.

Menurutnya, model ini sering kali mengabaikan kenyataan bahwa rata-rata pemain saat ini adalah orang dewasa dengan keterbatasan waktu. “Tidak semua pemain memiliki waktu 88 jam untuk menyelesaikan satu judul game,” ujar Layden. Ia menekankan bahwa bagi mereka yang memiliki tanggung jawab pekerjaan dan keluarga, durasi yang terlalu panjang justru menjadi hambatan untuk menikmati sebuah karya secara utuh.
Sebagai alternatif, Layden menyarankan agar pengembang kembali fokus pada pembuatan game dengan durasi yang lebih padat, yakni berkisar antara 20 hingga 25 jam. Ia berargumen bahwa:
- Pengalaman Lebih Intens: Game yang lebih singkat memungkinkan pengembang untuk menjaga kualitas narasi dan gameplay tetap konsisten tanpa adanya konten tambahan (filler) yang repetitif.
- Tingkat Penyelesaian yang Lebih Tinggi: Dengan waktu yang masuk akal, pemain memiliki peluang lebih besar untuk menyelesaikan cerita hingga akhir.
Selain dari sisi pemain, Layden juga mengkhawatirkan keberlanjutan ekonomi dari model pengembangan saat ini. Peningkatan durasi game berkorelasi langsung dengan biaya produksi yang membengkak secara eksponensial.
Ia mencatat bahwa siklus pengembangan yang memakan waktu 5 hingga 7 tahun dengan anggaran ratusan juta dolar menciptakan risiko finansial yang sangat tinggi. Layden mengusulkan agar industri mempertimbangkan efisiensi biaya dengan memperpendek siklus produksi menjadi 2 hingga 3 tahun, sehingga inovasi dapat terjadi lebih cepat dan risiko kegagalan pasar dapat diminimalisir.
Kritik Shawn Layden ini menjadi pengingat bagi para pelaku industri bahwa kemajuan sebuah game tidak hanya diukur dari luasnya peta atau lamanya durasi bermain. Fokus pada pengalaman yang bermakna, efisiensi produksi, dan pemahaman terhadap gaya hidup audiens dianggap sebagai kunci utama untuk menjaga stabilitas industri game di masa depan.
