Sebuah game selalu berusaha menghadirkan tantangan baru memanfaatkan core gameplay yang tersedia. Sebagai contoh, Portal memaksimalkan mekanisme portalnya dengan momentum dan bahkan memasukkan elemen combat. Luigi’s Mansion membuatmu memecahkan sangat banyak masalah hanya dengan vacuum cleaner. Lalu tentu saja, mekanisme utama game Mario hanya satu: lompat.
Salah satu cara developer membuat gameplay tersebut selalu seru adalah menghadirkan banyak jenis level unik. Namun dari banyak jenis dan ide level yang ada, sampai sekarang saya masih tidak suka dengan water level.
Kehilangan Kekuatan Utama

Sebelum membahas lebih jauh, water level yang kami maksud di sini adalah ketika game yang kamu mainkan sebenarnya dimainkan di darat, tapi kemudian kamu harus menyelam di bawah air. Kalau kamu pernah main game seperti Super Mario Odyssey, kamu harusnya beberapa kali diiminta menyelam di bawah air setelah mungkin beberapa jam memanjat gedung pencakar langit.
Game platformer baik 2D maupun 3D suka memasukkan water level dan saya rasa sedikit yang disukai. Salah satu alasan terbesarnya sangat sederhana: movement.
Salah satu daya tarik utama di game platformer adalah movement atau kebebasanmu bergerak. Kamu bisa melompat dan kadang menyerang sampai menggunakan ability untuk melewati rintangan yang ada. Buat pemain yang jago, kamu bisa memperlihatkannya dengan melewati satu level secepat mungkin.

Lalu kamu kemudian dilempar ke dasar laut, dan semua kelincahanmu berkurang drastis. Lompatan karaktermu yang awalnya sangat presisi jadi floaty alias mengambang terlalu lama. Larimu yang cepat jadi sangat lambat dan licin.
Bahkan mungkin saja kemampuan combat-mu juga berkurang atau hilang sama sekali. ‘Kekuatan’ yang kamu miliki dan jadi alasanmu bermain game ini tiba-tiba hilang hanya karena developer memaksamu melakukannya.
Salah satu contoh yang mungkin paling terasa adalah ketika kamu bermain game Sonic 2 di console lawas. Seperti yang kamu tahu, Sonic adalah karakter yang dikenal dengan kecepatannya, dan game-nya selalu berkisar pada memanfaatkan kecepatan tersebut. Namun game Sonic 2 juga punya water level, dan kecepatanmu hilang begitu saja. Platforming yang awalnya jadi tantangan untuk menjaga momentum kecepatan jadi tantangan presisi.
Dasar Laut yang Tidak Menyenangkan

Water level juga kadang membawa ‘tantangan’ tambahan yang justru jadi menjengkelkan. Melanjutkan keluhan Sonic 2 tadi, selain gerakanmu jadi sangat lambat, kamu juga punya timer yang menandakan kapasitas oksigen. Ketika oksigenmu hampir habis, kamu harus mencari gelembung udara untuk me-reset timer tersebut, dan itu mungkin berarti harus kembali ke tempat yang sudah kamu lewati.
Ditambah dengan pergerakan yang terbatas, mekanisme seperti oksigen juga membuat water level jadi semakin menjengkelkan. Lebih parah lagi jika game-nya 3D dan kamu harus beradaptasi dengan kamera karena kamu mungkin harus mulai memeriksa segala arah. Kalau masuk ke ranah 2D, mungkin saja kamu harus menelusuri koridor sempit dan mungkin berisi musuh yang menghalangi.
Belum lagi kalau pencahayaan di water level juga berkurang.
Satu-satunya yang mungkin positif dari water level adalah musiknya yang biasanya enak didengar. Untuk game seperti Super Mario Odyssey, area seperti Lake Kingdom justru sangat indah. Namun itu tidak mengembalikan movement yang hilang ketika kamu berada di bawah air.
Apakah ada game yang sukses menghadirkan water level yang seru dimainkan? Mungkin ada, tapi tidak banyak.
Umumnya game yang menghadirkan water level yang seru justru adalah game yang memang gameplay utamanya memang di dasar laut seperti Abzu dan Subnautica.
