Impresi The Last of Us Part II – Ini Bukan Lagi Tentang Kita

The Last of Us Part II harus diakui adalah game yang bagus, tapi bukan begini game yang saya inginkan. Entah bagaimana dengan pendapatmu.


Disclosure: Impresi The Last of Us Part II ini menggunakan review copy resmi yang disediakan oleh Sony.


Ketika The Last of Us dirilis pada tahun 2013 untuk PlayStation 3, game tersebut langsung jadi sebuah karya yang menghebohkan dunia. Naughty Dog, developernya, selama ini sudah terkenal karena judul-judul populer seperti Uncharted dan Crash Bandicoot, namun The Last of Us menawarkan sesuatu dengan level yang lebih tinggi. Lebih serius, menegangkan, juga menantang pikiran serta moralitas kita.

Kamu yang sudah pernah tamat main The Last of Us mungkin setuju bila saya berkata bahwa game itu tidak butuh sekuel. Adegan penutup ceritanya, meski menyisakan pertanyaan, sudah cukup meninggalkan kesan mendalam, bahkan bisa jadi kisah legendaris yang akan terus kita ingat hingga bertahun-tahun. Tapi kemudian Naughty Dog menciptakan The Last of Us Part II.

BACA JUGA: Bentuk PS5 Resmi Terungkap! Inilah 26 Game yang Akan Hadir di Sana

Memangnya apa lagi yang mau mereka ceritakan? Akankah game ini memperkuat, atau malah merusak cerita yang sebelumnya telah ada? Well, dari apa yang saya mainkan sejauh ini, jawabannya bisa dua-duanya. Atau lebih tepat kalau saya bilang, jawabannya adalah dua-duanya sekaligus.

Sumber: Sony

Karya dari Para Perfeksionis

Hal pertama yang saya rasakan ketika main The Last of Us Part II, adalah bahwa ini game yang sangat mahal. Mahal dari beragam aspek, bukan sekadar kualitas visual sebagaimana layaknya sebuah game AAA seharusnya. Naughty Dog menerapkan begitu banyak elemen yang sangat detail, yang mungkin sebenarnya tak ada pun tak apa-apa, tapi jadi memberi nilai plus besar sekali di game ini.

Naughty Dog seolah ingin memastikan bahwa The Last of Us Part II bisa dimainkan dengan tingkat kenyamanan maksimal oleh semua orang. Caranya dengan memberikan banyak sekali opsi yang bisa kita atur sendiri, baik opsi yang sifatnya hanya hiasan maupun yang langsung mempengaruhi gameplay.

Sebagai contoh, kita bisa mengubah ukuran dan warna teks, mengatur apakah nama orang yang sedang berbicara ditunjukkan atau tidak, bahkan menunjukan di mana arah/lokasi orang yang sedang berbicara. Begitu pula ketika bertarung, kita bisa mengatur kemunculan indikator arah datangnya musuh, kapan indikator itu muncul, bentuk kursor ketika kita menembak, hingga memilih elemen HUD apa saja yang ingin kita munculkan!

Sumber: Sony

Luasnya kustomisasi ini menurut saya benar-benar “gila”, dan tidak lazim muncul dalam sebuah game. Sebagian opsi bisa membuat The Last of Us Part II jadi terasa lebih gampang, tapi ada juga opsi yang menjadikan game ini lebih nyaman untuk kaum difabel tanpa mengurangi kesulitannya. Sebagian lainnya bisa membuat game jadi lebih imersif (seperti mengatur berapa sudut kemiringan audio sesuai dengan speaker yang kamu miliki), dan sebagian lainnya akan membuat pengalamanmu jadi jauh lebih menantang.

Aspek kustomisasi ini saya rasa perlu mendapat sorotan tersendiri sebab rasanya keren sekali, dan saya akan senang sekali bila opsi-opsi serupa jadi standar untuk semua game AAA ke depannya. Memang pasti biaya produksi akan meningkat, tapi Naughty Dog seolah tak peduli akan hal itu dan terobsesi sekali menjadikan The Last of Us Part II sempurna dalam semua hal, bahkan sampai ke elemen terkecil.

Mendorong Batas Realisme

Obsesi akan kesempurnaan yang sama juga akan kita temukan dari elemen-elemen visual dalam game ini. Rasanya tidak cukup kalau saya hanya bilang bahwa The Last of Us Part II punya grafis bagus, karena “bagus” yang saya maksud di sini bukan hanya tentang resolusi, model 3D, atau kualitas tekstur. Lebih dari itu, visual The Last of Us Part II dirancang dan diukir dengan sangat hati-hati hingga hitungan milimeter.

Sumber: Sony

Mungkin kalimat ini akan terdengar ofensif, tapi ketika saya main game ini, saya merasa seperti menonton film yang diarahkan oleh seorang sutradara OCD. Bagaimana cara kamera menyorot, bagaimana para karakter berekspresi, hingga nada bicara, pemotongan kata, bahkan irama napas mereka, semua terasa begitu tertata dan tidak ada satu pun momen terjadi secara kebetulan. Begitu pula dengan efek-efek suara, beserta musik latar yang muncul, semuanya diatur sedemikian rupa agar momen-momen yang sedang terjadi bisa terasa makin emosional.

Naughty Dog juga tidak segan-segan “menghamburkan” resource untuk merancang tempat-tempat yang kamu kunjungi, bahkan yang hanya lewat beberapa detik saja di cerita. Semua demi menciptakan dunia yang sangat detail dan nyata, yang mampu membuat kita lupa bahwa kita sedang melihat sebuah video game. Tingginya tingkat detail visual dalam game ini sampai-sampai membuat prekuelnya seolah tidak istimewa, padahal ketika The Last of Us pertama dirilis, game tersebut sudah dianggap sebuah masterpiece.

Aspek Survival yang Makin Berkurang

Berkebalikan dari segi visualnya yang begitu perfeksionis, saya justru merasa aspek gameplay di game ini mengalami penurunan. Tapi itu sebetulnya tergantung ekspektasi pemain juga. Saya memandang The Last of Us sebagai seri survival horror, sehingga saya menghargai kelangkaan resource serta tingkat kesulitannya. Tapi mungkin Naughty Dog punya visi berbeda dan lebih ingin The Last of Us Part II jadi fokus ke cerita, seperti seri Uncharted.

Sumber: Sony

Penurunan tingkat kesulitan yang paling terasa adalah stealth kill yang jadi jauh lebih gampang. Kita tidak perlu lagi repot-repot merakit Shiv, sebab kini kita memiliki pisau yang bisa digunakan tanpa batas. Sebagai gantinya, pertarungan terbuka jadi lebih sulit sebab musuh-musuh dapat berlari lebih cepat, dan cukup sulit untuk melakukan aiming dengan akurat ke arah mereka.

Kita justru didorong untuk lebih memanfaatkan lingkungan, seperti melempar musuh dengan botol atau batu bata agar mereka goyah dan bisa kita habisi dari jarak dekat. Ini membuat The Last of Us Part II punya feel permainan lumayan berbeda dari pendahulunya, dan mungkin justru lebih masuk akal. Tokoh utama game ini bukanlah polisi atau pasukan khusus pembasmi zombie. Mereka hanya orang biasa yang harus bertahan hidup, dan mereka mengangkat senjata semata-mata karena terpaksa.

Kamu bisa setuju atau tidak setuju dengan evolusi ini, tapi secara pribadi saya merasa The Last of Us Part II jadi kurang balance. Ketika sedang stealth, game ini terlalu gampang sebab saya bisa menumbangkan semua musuh tanpa memikirkan resource. Sementara pertarungan terbuka jadi terlalu merepotkan dan tidak fun. Ditambah dengan aspek platforming yang kini lebih banyak, The Last of Us Part II jadi seperti bukan game survival horror, hanya game action biasa dengan bumbu stealth.

Sumber: Sony

The Last of Us, Cerita Tentang Siapa?

The Last of Us adalah seri game yang sangat menjual elemen cerita, jadi akan lebih bagus kalau kamu mengalami langsung ceritanya sendiri untuk menilai. Saya pun tidak akan memberi gambaran cerita di sini, tapi mungkin saya bisa membicarakan sedikit tentang visi serta filosofi yang dikandung oleh The Last of Us Part II.

Singkatnya, kata “Part II” dalam judul game ini menurut saya agak menipu. Alasannya karena cerita The Last of Us Part II bukanlah “bagian kedua” dari sebuah cerita yang selama ini kita ikuti. Justru game ini lebih mengisahkan tentang sebuah epilog, atau konsekuensi jangka panjang dari perjalanan Joel dan Ellie di prekuelnya. Mungkin daripada Part II, saya akan lebih setuju bila game ini disebut “The Last of Us: Aftermath”, atau sejenis itu.

The Last of Us Part II juga membuat saya mempertanyakan kembali, siapa “Us” yang dimaksud dalam judul tersebut. Selama ini kita diajak untuk mengikuti cerita yang berpusat pada Joel dan Ellie, tapi sekarang Naughty Dog justru menyajikan cerita dengan lingkup yang lebih luas. Di kisah ini, Joel dan Ellie bukanlah orang yang spesial. Mereka bukan action hero, bukan juga “tokoh utama”, hanya orang biasa sama seperti orang-orang lainnya.

Sumber: Sony

Kamu yang sudah memiliki ikatan emosional pada karakter Joel dan Ellie sebelumnya, bisa kecewa karena tiba-tiba image mereka jadi berubah. Tapi mungkin sebetulnya itulah yang ingin disampaikan oleh kreator The Last of Us. Ini bukan kisah tentang Joel dan Ellie. Ini adalah kisah tentang “Us”, tentang kita. Ini tentang saya, kamu, dan manusia-manusia lainnya. Secara individu, kita bisa jadi sosok spesial bagi orang-orang tertentu. Tapi bila kita lihat dalam skala besarnya, seberapa besar peran keberadaan kita bagi dunia? Silahkan renungkan dan jawab sendiri.

Kesimpulan

Saya benci The Last of Us Part II. Itu suara hati yang terus-menerus berdengung sepanjang saya memainkan game ini. The Last of Us Part II membuat kisah legendaris yang telah kita lihat di game pertamanya dulu jadi terasa tidak legendaris lagi. The Last of Us Part II membuat lembaran-lembaran cerita yang seharusnya sudah ditutup, jadi terbuka lagi.

Rasanya seperti membaca dongeng yang menjanjikan happy ever after, tapi kemudian ternyata bohong. Dongeng itu masih ada kelanjutannya, dan kelanjutannya itu terasa seperti sebuah cerita yang jauh berbeda. Demikian jauhnya sampai-sampai saya berpikir seharusnya si pengarang bikin cerita baru saja.

Sumber: Sony

Itu kalau saya menilai game ini secara subyektif, sebagai seorang penggemar yang sudah pernah main dan menyukai The Last of Us pertama. Tapi sebagai reviewer, saya harus bilang bahwa game ini adalah sebuah karya yang luar biasa hebat. Pada akhirnya, kalau harus memberi skor kemungkinan saya tetap akan menilainya sangat tinggi.

Apakah itu artinya saya bersikap kontradiktif pada diri sendiri? Tidak juga. Menurut saya tidak ada yang salah dengan membenci sesuatu walau kita sudah tahu bahwa sesuatu itu bagus. Karena hal yang bagus itu belum tentu sama dengan hal yang kita inginkan. The Last of Us Part II adalah game yang bagus, tapi ini bukan game yang saya inginkan. Dan itu tidak apa-apa.


Ayyub Mustofa

Jarang main game sampai tamat kecuali untuk review. Menyukai hampir semua genre, dan hingga kini masih menunggu kemunculan Megaman X9.