Impresi Tales of CrestoriaGameplay Boleh Standar, Cerita Tetap Spesial

Sekilas main, Tales of Crestoria terasa seperti RPG mobile biasa. Tapi cerita yang diangkat cukup keren dan mengandung kritik sosial keras.


Ketika Tales of Crestoria pertama kali diumumkan, game ini langsung menarik perhatian saya karena konsep yang ditawarkan terlihat beda dari seri Tales of biasanya. Artwork serta materi promosi yang dirilis Bandai Namco mengesankan sebuah game yang lebih “gelap”, serius, bahkan mungkin sedikit sadis. Suasana shonen khas Tales of memang masih ada, tapi juga terlihat potensi untuk menyajikan sesuatu yang unik.

Kini Bandai Namco telah membuka fase open beta untuk Tales of Crestoria versi Inggris di beberapa negara, salah satunya Indonesia. Tentu saja saya merasa wajib untuk mencicipinya. Apakah Tales of Crestoria berhasil memenuhi hype yang telah dibangun selama ini, dan apakah game ini akan cocok untuk kamu mainkan? Mari kita bahas bersama.

Tales of Rasa Valkyrie Profile?

Kesan pertama yang mungkin membuat penggemar heran ketika melihat Tales of Crestoria adalah sistem pertarungannya yang tidak mirip seri Tales of biasanya. Di sini, kita bermain dengan menggunakan sistem turn-based. Kelihatannya lebih mirip dengan seri Final Fantasy daripada seri Tales of, dan kamu mungkin penasaran apakah hasilnya tetap seru atau malah membosankan.

Menurut saya, meskipun wujudnya turn-based, Tales of Crestoria tetap terasa cukup banyak aksi sebab pertarungannya berjalan dengan cepat sekali. Beda dari Final Fantasy klasik di mana kamu harus memilih-milih menu untuk menyerang musuh, game ini langsung menyediakan tombol-tombol yang mewakili serangan atau skill yang dimiliki tiap karakter. Kamu cukup menekan tombol itu untuk memilih aksi di tiap giliran.

Sistem seperti ini terasa lebih mirip dengan seri Valkyrie Profile, menghasilkan pertarungan yang cepat dan menyenangkan. Tapi karena jumlah tombol terbatas, tipe skill yang dimiliki tiap karakter pun akan terbatas pula. Variasi serta kelangkaan karakter menentukan skill apa yang mereka miliki, dan hanya karakter tingkat SSR saja yang memiliki jurus pamungkas alias Mystic Arte.

Pertarungan turn-based biasanya mengandung sejumlah aspek strategi. Di Tales of Crestoria, strategi ini hadir dalam dua wujud, yaitu elemen karakter dan urutan serangan. Tiap karakter memiliki elemen internal sendiri-sendiri, misalnya Sorey yang berelemen angin atau Kanata yang berelemen cahaya. Bila karakter menyerang musuh yang lemah terhadap elemennya, serangan itu akan mendapat bonus damage, begitu pun sebaliknya.

Lucunya, elemen ini terikat pada setiap karakter, bukan pada jenis serangan. Jadi misalkan Sorey punya jurus-jurus yang terlihat mengeluarkan api, jurus itu tetap dianggap elemen angin karena elemen internal karakter ini adalah angin. Urutan serangan karakter juga berperan cukup penting, sebab semakin banyak kamu melakukan serangan, akan ada penambahan multiplier yang menjadikan damage semakin besar.

Pakem Standar yang Menyenangkan

Alur permainan dalam Tales of Crestoria sangat standar untuk sebuah RPG mobile. Kamu bisa mengikuti cerita yang disajikan dalam wujud visual novel, kemudian mengumpulkan premium currency untuk gacha karakter. Setiap karakter bisa kamu upgrade dengan sejumlah material dan uang, dan tersedia fitur Arena untuk PvP kalau kamu berminat.

Ini pakem yang cukup simpel dan pasti sudah sangat sering kamu temui. Tapi bukan berarti pakem ini jelek. Mungkin Bandai Namco ingin Tales of Crestoria terasa seperti sebuah RPG console yang lebih mengedepankan cerita, sehingga aspek gameplay dibuat tidak terlalu rumit atau aneh-aneh.

Walaupun secara teknis sangat standar, Tales of Crestoria terasa dirancang dengan baik untuk menyenangkan para penggemar Tales of. Beda dari sejumlah game bertipe cross-over lainnya di mana karakter-karakter muncul tanpa tujuan yang jelas, semua karakter di sini dibuat menjadi bagian natural dari dunia Tales of Crestoria. Mereka punya kisah, misi, serta tujuan hidup sendiri-sendiri, bukan sekadar pahlawan yang dipanggil dari dunia lain untuk jadi bahan fanservice.

Bandai Namco juga memberi kita banyak kesempatan untuk “fanboying” atau “fangirling” terhadap seri Tales of kesayangan kita. Contohnya dengan memberi fitur gacha selector pada pemain baru. Ketika kita baru mulai main, kita diberi kesempatan untuk memilih satu dari puluhan karakter dengan kelangkaan SSR dan SR. Jadi kita pasti punya setidaknya satu karakter favorit yang bisa diandalkan di party sejak awal.

Fitur menarik lainnya adalah ensiklopedia berisi seluruh sejarah seri Tales of. Di sini kamu bisa mendapat info kronologis dari semua game dan film animasi Tales of yang pernah dirilis, lengkap dengan profil karakter, sinopsis, serta screenshot dari tiap produk. Kalau kamu menyukai seri Tales of, ensiklopedi ini bisa memperkenalkanmu pada hal-hal menarik yang jarang diketahui orang. Misalnya Tales of Wahrheit, Tales of the World: Summoner’s Lineage, dan berbagai game eksklusif Jepang lainnya.

Khas seri Tales of modern, kamu bisa melengkapi para karakter dengan kostum yang lucu-lucu. Kostum-kostum ini nantinya juga akan muncul dalam pertarungan, karena game ini menggunakan tampilan visual 3D. Kualitas 3D yang diusung pun menurut saya sudah bagus sekali, kira-kira setara dengan Tales of Xillia di PS3 dulu. Namun itu juga menjadikan game ini cukup berat. Saya harap Bandai Namco bisa lebih mengoptimalkan performanya di versi full release.

Perjalanan Hidup Para Pendosa

Aspek paling menarik dari Tales of Crestoria yang membuat game ini wajib kamu mainkan adalah ceritanya. Seperti sudah saya singgung tadi, jangan samakan Tales of Crestoria dengan game jenis cross-over lain. Cerita dalam game ini digarap cukup serius, bahkan menurut saya layak untuk dijadikan sebuah game console.

Tales of Crestoria bercerita tentang sebuah dunia di mana tiap manusianya memiliki perangkat sihir yang disebut Vision Orb. Alat ini dapat merekam sesuatu yang dilihat oleh pemiliknya, kemudian menyebarkannya ke seluruh masyarakat lewat sebuah terminal. Mirip seperti kamera dan smartphone di dunia nyata.

Kegunaan paling penting Vision Orb adalah sebagai alat untuk merekam bukti kejahatan. Begitu rekaman suatu tindak kriminal diunggah ke dalam Vision Terminal, orang-orang di seluruh dunia dapat melakukan penghakiman terhadap si pelaku. Kemudian bila cukup banyak orang menyatakan si pelaku ini bersalah, akan muncul makhluk misterius bernama Enforcer untuk membawa pelaku kejahatan itu pergi, meninggalkan masyarakat selamanya.

Konsep cerita ini menurut saya adalah sebuah kritik terhadap kultur internet kita yang sangat gampang memicu cyberbullying. Begitu ada suatu tindakan buruk yang viral, masyarakat kita cenderung cepat dalam menghujat, menghakimi, bahkan dalam beberapa kasus, meneror. Tak jarang kita mendengar orang berkata “si anu mending mati saja”, mungkin tanpa memikirkan konsekuensi atas perkataannya itu.

Penghakiman tindak kriminal berdasarkan banyak-banyakan suara bukanlah proses penghakiman yang baik. Saya rasa kita semua paham akan hal itu, tapi kenyataannya itulah yang terjadi di masyarakat. Padahal belum tentu penghakiman dan keputusan yang kita jatuhkan itu benar.

Bagaimana jika ternyata “bukti” yang ada di Vision Orb itu tidak menggambarkan kejadian yang sebenarnya? Bagaimana bila mayoritas masyarakat ternyata berpegang pada nilai moral yang salah? Layakkah kita menyuruh orang lain mati atau menghilang karena kesalahan yang dilakukannya? Memangnya kita siapa? Tales of Crestoria mengajak kita untuk mencoba lebih berempati dan mempertanyakan berbagai hal tentang kultur masyarakat ini.

Kesimpulan

Seperti sebuah ungkapan yang terkenal dalam Injil Yohanes, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu.” Tales of Crestoria mengajak kita melakukan refleksi atas budaya penghakiman dan herd mentality yang saat ini marak terjadi, lewat sebuah kisah menarik dalam balutan latar fantasi.

Kalau kamu ingin gameplay yang mendalam, rumit, dan mendorong otak berpikir keras, kamu tak akan menemukannya di Tales of Crestoria. Ini adalah game yang kita mainkan demi mengikuti cerita. Saya belum melihat seluruh ceritanya hingga selesai, tapi dari apa yang saya lihat sejauh ini, kisah Tales of Crestoria sudah bagus sekali. Mungkin termasuk paling menarik di antara seri Tales of yang pernah saya mainkan.

Semoga saja kualitas ini tetap dipertahankan oleh Bandai Namco ke depannya. Atau lebih radikal lagi, semoga kapan-kapan nanti Bandai Namco berminat me-remake Tales of Crestoria jadi game console. Kalau itu terjadi sih rasanya saya sudah pasti langsung auto buy!


Ayyub Mustofa

Jarang main game sampai tamat kecuali untuk review. Menyukai hampir semua genre, dan hingga kini masih menunggu kemunculan Megaman X9.