Setelah masa pengembangan yang memakan waktu hampir tujuh tahun, game action RPG ambisius mereka, Crimson Desert, akhirnya sampai di tangan para kritikus. Namun, alih-alih mendapatkan sambutan luar biasa yang bisa mendongkrak kepercayaan pasar, skor review yang muncul justru dinilai “terlalu biasa” oleh para investor.
Angka rata-rata 78 di Metacritic—yang sebenarnya tidak buruk bagi sebuah game baru—ternyata gagal memenuhi ekspektasi selangit para pemegang saham yang mengharapkan kualitas setara game AAA papan atas lainnya.
Reaksi pasar terhadap skor tersebut tergolong brutal dan instan. Tak lama setelah ulasan media dan influencer mengudara, harga saham Pearl Abyss langsung tercatat merosot tajam hingga 29%.
Nilai saham yang awalnya berada di kisaran 65.500 Won per lembar jatuh ke titik 46.000 Won tanpa menunjukkan tanda-tanda pemulihan dalam waktu dekat.
Para kritikus memang memuji keindahan visual dan luasnya dunia yang ditawarkan, namun mereka juga menyoroti adanya beberapa fitur yang berpotensi memicu rasa frustrasi serta masalah teknis berupa bug yang masih sering ditemui, yang tampaknya menjadi alasan utama ketidakpuasan para pemodal.
Situasi ini menjadi alarm keras bagi pengembang asal Korea Selatan tersebut, mengingat Crimson Desert adalah proyek kunci yang diharapkan menjadi mesin uang baru setelah kesuksesan Black Desert Online.
Dengan tanggal perilisan yang sudah di depan mata pada 19 Maret 2026 untuk PlayStation 5, Xbox Series, dan PC, Pearl Abyss kini menghadapi tekanan besar untuk segera memperbaiki masalah teknis dan membuktikan kepada para pemain serta investor bahwa game ini masih layak untuk dinikmati meskipun awal perjalanannya di pasar saham berjalan cukup terjal.
