Uni Eropa kembali memperketat pengawasan terhadap praktik monetisasi dalam industri gim video. Pada 30 September 2026, Jaringan Kerja Sama Perlindungan Konsumen (Consumer Protection Cooperation Network atau CPC) yang dikoordinasikan oleh Komisi Eropa resmi meluncurkan tindakan hukum terhadap sembilan penerbit gim besar, termasuk Riot Games.
Prosedur ini berfokus pada penggunaan serta penjualan mata uang virtual (in-game currency) agar selaras dengan aturan perlindungan konsumen yang berlaku di wilayah Eropa.
Langkah tegas ini merupakan tindak lanjut dari prinsip utama mata uang virtual gim (Key Principles on In-Game Virtual Currencies) yang telah diadopsi CPC sejak Maret 2025.
So @VALORANT Is GETTING TAKEN TO EU COURT Along with 8 other games/companies The claims are -Unclear pricing -EXCESSIVE amounts of virtual currency required for purchases -Insufficient information before buying -Inadequate safeguards for children.UNFAIR PRICING BEGONE FINALLY!#Riot #Riotgames #valorant #valorantEU #EU #Europeancomission #Minecraft #CandyCrush #ForHonor #lootbox #NightMarket
— Irish Wolfie aka Dominic (@TheIrishWolfie) October 1, 2026
Otoritas Eropa menuntut transparansi penuh dari para penerbit, mulai dari kewajiban mencantumkan harga barang dan mata uang virtual dalam nominal uang asli, menolak sistem konversi yang membingungkan nilai ekonomis asli, hingga melarang praktik yang memaksa pemain membeli mata uang digital hanya demi mendapatkan suatu item.
Selain Riot Games dengan judul VALORANT, aksi hukum ini turut menyeret delapan penerbit raksasa lainnya. Nama-nama populer seperti Crytek (Hunt: Showdown 1896), King (Candy Crush Saga), Mojang (Minecraft), Supercell (Clash of Clans), hingga Ubisoft (For Honor) ikut menjadi target investigasi.
Kasus ini juga memperpanjang rentetan tindakan tegas Uni Eropa sepanjang tahun 2026, setelah sebelumnya Microsoft dan Activision Blizzard diselidiki atas indikasi pelanggaran serupa pada gim Call of Duty Mobile dan Diablo Immortal.
For those who want the link https://t.co/nPQvniqD3PThe other Companies/Games include For Honor, Minecraft, Candy Crush, Clash of clansIn regards to #StopKillingGames movement, it’s unclear how/IF it relates!
— Irish Wolfie aka Dominic (@TheIrishWolfie) October 1, 2026
Meski demikian, Komisi Eropa menegaskan bahwa tindakan awal ini belum berupa vonis hukuman, melainkan dialog konstruktif agar para penerbit segera membenahi sistem monetisasi mereka. Namun, jika isu-isu transparansi ini diabaikan, otoritas nasional di tiap negara anggota siap memberlakukan sanksi penegakan hukum secara penuh.
Tekanan ini menambah panjang daftar masalah regulasi bagi Riot Games, yang baru saja dijatuhi denda 15 juta Real Brasil (sekitar 3 juta Dolar AS) pada Juni 2026 lalu akibat kasus loot box di gim League of Legends.

