Pada bulan Mei 2007, Vanillaware merilis sebuah mahakarya yang menembus batas visual masanya: Odin Sphere di PlayStation 2. Kini, 19 tahun telah berlalu sejak kita pertama kali membuka buku cerita di sebuah loteng tua, memulai petualangan puitis di dunia Erion yang berada di ambang kiamat.
Bagi anak rental atau pemilik PS2 dulu, pembuka game ini sangatlah magis. Kita mengendalikan seorang anak perempuan bernama Alice yang membaca buku-buku tebal di loteng bersama kucingnya. Setiap buku adalah takdir dari 5 protagonis berbeda—Gwendolyn, Cornelius, Mercedes, Oswald, dan Velvet—yang takdirnya saling bertautan.

Di era saat semua developer berlomba-lomba mengejar grafis 3D, Vanillaware justru melahirkan seni 2D hand-drawn yang luar biasa megah. Warna yang hidup, animasi karakter yang anggun, dan latar belakang yang tampak seperti lukisan cat air bergerak membuat Odin Sphere tetap terlihat memukau.
Odin Sphere bukan sekadar dongeng pengantar tidur yang manis. Narasi dalam game ini dipenuhi dengan tragedi, pengkhianatan, pengorbanan, dan cinta yang rumit. Setiap karakter berjuang demi takdir mereka sendiri, tanpa menyadari bahwa semua tindakan mereka melangkah menuju ramalan kuno yang akan mengakhiri dunia.

Salah satu hal paling ikonik dan bikin kangen dari game ini adalah sistem progresnya. Untuk menaikkan HP maksimal, Bapack tidak sekadar memukul monster, melainkan harus menanam buah Pooka, memasak di restoran tersembunyi, dan memakan hidangan lezat yang visualnya selalu berhasil membuat perut kita keroncongan.
Membicarakan versi PS2 tentu tidak lepas dari memorinya yang agak “menyiksa”. Saat layar dipenuhi oleh puluhan musuh, efek sihir Phozon, dan bos berukuran raksasa, konsol PS2 kita sering kali kepayahan hingga terjadi frame drop yang parah. Namun, anehnya, hal itu justru membuat pertempuran terasa berjalan dalam efek slow-motion yang dramatis.

Alunan musik yang digubah oleh Hitoshi Sakimoto berhasil menghidupkan atmosfer Erion dengan sempurna. Dari melodi yang sendu di menu utama hingga simfoni megah saat bertarung melawan para dewa, audio game ini berhasil mengunci emosi pemainnya untuk tetap tenggelam di dalam cerita.
19 tahun adalah waktu yang lama, namun kenangan saat mengumpulkan Phozon dan menyaksikan akhir dari kisah cinta Oswald dan Gwendolyn tetap membekas di hati. Odin Sphere adalah bukti nyata bahwa video game adalah sebuah bentuk karya seni yang tinggi, sebuah dongeng abadi yang akan selalu kita rindukan untuk dibaca kembali.
