Kalau kamu sudah lama mengikuti perkembangan dunia game PC, kamu mungkin pernah mendengar tentang sebuah game berjudul Hatred. Game ini menuai kontroversi pada tahun 2014 lalu, karena konten di dalamnya yang penuh kekerasan sampai di atas wajar. Bukan hanya kekerasan dalam arti penggambaran aksinya, tapi kamu memang berperan sebagai penjahat genosida yang membunuh orang-orang tak bersalah tanpa perasaan.
Developer Hatred (studio Destructive Creations) berkata bahwa mereka memang mengembangkan Hatred sebagai bentuk protes terhadap industri game yang belakangan jadi semakin harus “politically correct”. Mereka ingin menciptakan sesuatu yang melawan tren, game yang murni sebagai hiburan saja, tanpa ada makna terpendam seperti sebuah karya seni tinggi.

Tentu saja game semacam ini menuai banyak pro dan kontra. Hatred sempat ditarik dari Steam Greelight, namun akhirnya kembali lagi setelah mendapat pertimbangan ulang dari Gabe Newell. Hatred kemudian dirilis dengan rating ESRB AO (Adults Only 18+), sementara di Steam game ini dipajang dengan rating PEGI 18.
BACA JUGA: PUBG Mobile Mendapatkan Update Baru dengan Tema Salju, Cold Front Survival!
Terkait dengan latar belakang yang dimilikinya, rasanya cukup aneh ketika kita mendengar kabar bahwa Hatred akan dirilis untuk Switch. Selama ini Nintendo terkenal sebagai perusahaan console yang paling ketat terhadap urusan “family-friendly”.
Kebijakan tersebut adalah alasan mengapa banyak game yang mengandung aspek kekerasan atau pornografi tidak dapat dirilis di platform milik Nintendo selama puluhan tahun. Kalaupun dirilis, besar kemungkinan isinya akan disensor seperti kasus Mortal Kombat di era SNES dulu.
Belakangan ini banyak pihak yang berspekulasi bahwa Nintendo tampaknya telah meninggalkan kebijakan family-friendly tersebut. Ini bisa dilihat dari munculnya berbagai game dengan rating ESRB M (Mature 17+) di Switch, contohnya seri Borderlands, The Witcher, hingga DOOM. Nintendo juga merupakan penerbit eksklusif untuk Bayonetta 2, yang bukan hanya mengandung kekerasan tapi juga penuh adegan seksi.
Munculnya game dengan rating ESRB AO di Switch seolah jadi konfirmasi bahwa kebijakan tersebut memang benar-benar telah dihapus oleh Nintendo. Apalagi mengingat bahwa AO adalah rating tertinggi yang dimiliki ESRB, dan jarang sekali game mendapat rating ini kecuali bila isinya memang ekstrem.
Nintendo telah berubah menjadi penyedia platform untuk konten yang benar-benar bebas. Apakah ini perubahan yang baik? Untuk sebagian orang mungkin iya, tapi bagi sebagian lainnya bisa jadi tidak. Silahkan kamu menilai sendiri.
