Faktor yang Membuat Matinya Sebuah Franchise Game Populer


Salah satu hal paling buruk di industri game adalah ketika sebuah franchise mati atau hiatus. Tak ada seri baru, tak ada judul baru.

faktor matinya franchise game

Menciptakan sebuah franchise game yang bagus adalah hal yang sangat sulit. Butuh gebrakan ekstra untuk menciptakan game pertamanya sehingga ke sini-sininya, seri game tersebut bakal menjadi salah satu yang paling ditunggu. Bahkan untuk melakukan ini developer harus melakukan riset mendalam demi mengetahui keinginan gamer.

BACA JUGA: Laku Keras! Berikut 5 Game PC dengan Penjualan Terbaik Sepanjang Masa– Part 2

Namun meski susah untuk membangunnya, tak jarang banyak developer atau publisher yang justru meninggalkan franchise andalan mereka bahkan sebagiannya lagi mati suri dan tak bangkit hingga sekarang.

Menurut Gimbot, ada beberapa faktor yang pada akhirnya membuat sebuah franchise game akhirnya mati dan ditinggalkan. Kira-kira faktor apa saja? Berikut ulasannya!

Studio Bangkrut

Akan jadi hal yang bagus jika sebuah studio yang sudah diambang kebangkrutan akhirnya kembali bersama dengan hak kekayaan intelektual yang mereka punya. Telltale Games dan THQ menjadi contoh bagaimana mereka yang sudah diambang kebangkrutan akhirnya berhasil selamat serta akhirnya bisa melanjutkan proyek-proyek mereka terdahulu.

Tapi sebagiannya lagi justru bernasib sial. Ya, 3DO yang populer berkat seri Army Men dan Hudson yang terkenal dengan seri Bloody Roar-nya harus tunduk pada jurang kebangkrutan. Padahal di masa lalu, kedua game ini adalah salah satu primadona yang memiliki pemain cukup banyak.

Tidak adanya penyelamat menjadi faktor yang melatarbelakanginya sehingga franchise andalan mereka tak bisa dilanjutkan. 3DO sendiri bangkrut dikarenakan console ciptaannya, 3DO Multiplayer Interactive gagal dipasaran sehingga akhirnya mereka mengajukan kebangkrutan pada 11 Mei 2003 dan tak bisa melanjutkan proyek-proyek yang sudah mereka miliki.

Khusus untuk Hudson, sebenarnya mereka sukses merger dengan Konami. Tapi entah kenapa, Konami enggan untuk melanjutkan franchise ikonik yang dimiliki oleh Hudson khususnya Bloody Roar.

Silang Pendapat Kreator, Publisher, dan Developer

Silang Pendapat Kreator, Publisher, dan Developer

Konami menjadi contoh di mana pada akhirnya franchise ikonik yang mereka miliki tak dapat dilanjutkan kembali. Ya, Metal Gear Solid dan Silent Hill adalah contoh nyata di mana adanya silang pendapat antara kreator, pengembang, dan penerbit dalam waktu yang bersamaan.

Konami selaku developer dan publisher memiliki masalah dengan Hideo Kojima sehingga akhirnya proyek di bawah Hideo Kojima harus diambil alih oleh Konami. Contoh nyatanya adalah Metal Gear Solid yang dikatakan belum selesai justru diambil alih serta kemudian diselesaikan dengan paksa.

BACA JUGA: 5 Pasangan Kekasih Terbaik yang Muncul Dalam Video Game – Part 2

Contoh lainnya adalah Silent Hill P.T yang gagal menjadi penyelamat franchise ini karena sebelum dikerjakan hingga rampung, Kojima sudah angkat kaki dari Konami. Silent Hill P.T gagal menjadi game bahkan demo-nya juga dihapus.

Selain Konami dan Kojima, mungkin di luar sana banyak juga yang mengalami nasib serupa yang akhirnya membuat sebuah franchise pada akhirnya mati begitu saja.

Punya Franchise yang Lebih Menjual

franchise game

Prince of Persia terangkat namanya ketika The Learning Company menyatu dengan Ubisoft. Ya, hingga akhirnya di tahun 2003 kita mengenal sebuah game bernama Prince of Persia: The Sands of Time. Cukup sukses dengan game ini, Ubisoft melanjutkan dua game ini hingga The Forgotten Sands yang dirilis di tahun 2010.

Namun alih-alih melanjutkannya, mereka justru melupakannya dan lebih memilih untuk menggarap seri Assassin’s Creed. Ya, Assassin’s Creed dibuat dari mekanisme yang ada pada Prince of Persia seperti parkour dan aksi manjat memanjat.

Dianggap lebih menjual serta memiliki cukup banyak fans, Prince of Persia akhirnya dilupakan dan tenggelam di console hingga saat ini. Tak heran jika salah satu penyebab yang membuat sebuah franchise mati adalah karena memilihnya developer untuk membuat salah satu franchise baru daripada melanjutkan yang lama.

Memang Ingin Ditamatkan

franchise game

The Witcher 3 Series dan Uncharted menjadi contoh bagaimana sebuah developer mengambil langkah tegas untuk mengakhiri franchise mereka yang sangat menjual daripada melanjutkannya hingga akhirnya kehilangan arah seperti yang lain.

Ini juga menjadi salah satu penyebab dimatikannya sebuah franchise yang paling lumrah dan umum untuk dilakukan. Tak hanya itu, franchise seperti Trilogy Mass Effect dan Dead Space juga menjadi contoh baik dimatikannya sebuah game secara damai, elegan, dan tanpa masalah.

Namun jika suatu saat para developer ini ingin membangkitkannya kembali, mereka masih bisa melakukannya dengan mengambil spin-off atau ide baru yang masih terhubung dengan franchise-franchise game tersebut.

Ketegasan developer menjadi faktor selanjutnya yang membuat franchise harus berakhir. Namun dengan cara ini juga pada akhirnya justru franchise game yang dimatikan terus diingat bahkan terus membawa para pemain baru.

Lisensinya Pindah

Hal yang tak umum pernah terjadi di masa lalu terhadap Crash Bandicoot di mana game ini harus pindah tangan dari Sony dan Naughty Dog ke tangan Activision. Itulah yang akhirnya menjawab mengapa game yang satu ini meredup secara nama dan popularitas.

Pindahnya lisensi tentu membuat Naughty Dog tak bisa melanjutkan franchise fenomenalnya ini. Justru yang berkewajiban menggarap seri-seri terbarunya adalah Activision. Tapi alih-alih membangkitkan franchise ini dengan membuat seri baru, Activision justru malah membuat remake dari game tersebut.

Gimbot pribadi tak pernah menghitung bahwa remake adalah cara untuk membangkitkan dan melanjutkan franchise. Buat Gimbot pribadi, remake adalah cara untuk bernostalgia dengan cita rasa kekinian. Hanya itu.

Seri paling akhir yang kita mainkan dari Crash Bandicoot (tanpa remake) adalah Nitro Kart 2 yang dirilis pada tahun 2010. Sejak saat itu tak ada seri baru selain dua remake. Tak berlebihan rasanya jika Gimbot menganggap dibeli lisensinya sebuah game juga bisa membawa sebuah franchise game mati sementara atau hiatus.


Azzizil Adam

Main game gak bakal bikin masa depan suram. Yang bikin suram adalah ketika lo malas berbuat sesuatu! Happy gaming.