Kalau kamu tanya saya, siapa karakter Marvel yang super wajib punya game sendiri, buat saya Wolverine pasti masuk daftar paling atas. Cakar adamantium, healing factor, temperamen buruk, dan hampir semua masalah di hidupnya bisa diselesaikan dengan cara yang sangat tidak diplomatis. Secara konsep, Wolverine memang seperti karakter yang dari sananya sudah dirancang untuk video game.
Makanya ketika Marvel’s Wolverine pertama kali diumumkan pada 9 September 2021 lewat PlayStation Showcase, saya langsung penasaran. Apalagi yang mengerjakannya Insomniac Games, studio yang sudah sukses membawa Spider-Man ke dalam format video game. Hampir lima tahun kemudian, pertanyaan saya sebenarnya bukan lagi apakah mereka bisa membuat Wolverine terlihat keren, tetapi apakah Insomniac bisa membuat sebuah game yang benar-benar terasa seperti Wolverine.
Saat Cakar Wolverine Mulai Berbicara

Combat jelas jadi salah satu bagian yang paling berkesan dari Marvel’s Wolverine. Logan terasa brutal, agresif, dan memang bukan tipe karakter yang perlu banyak basa-basi saat berantem. Darah ada di mana-mana, tangan atau kaki musuh bisa putus, dan beberapa finisher-nya bahkan cukup sadis. Buat saya, justru hal-hal seperti ini yang bikin pertarungannya terasa pas dengan karakter Logan.
Selain itu, saya juga harus mengapresiasi bagaimana healing factor dan Rage tidak cuma jadi aksesori selama permainan. Keduanya cukup terasa saat dimainkan, terutama karena kamu memang didorong untuk terus maju alias tetap bertarung secara agresif. Apalagi saat banyak musuh mulai datang dari berbagai arah, justru di situlah aspek combat terasa paling enak dimainkan. Rasanya memang lebih cocok melihat Wolverine terus ada di tengah keributan daripada sibuk cari aman.
Beberapa jam pertama saya benar-benar menikmati ritmenya. Menerkam musuh, parry di timing yang pas lalu lanjut ke finisher yang satisfying. Hanya saja setelah beberapa lama, saya mulai merasa pola pertarungannya makin gampang ditebak.
Variasi musuh memang ada, skill baru juga terus terbuka, dan pilihan upgrade-nya lumayan banyak. Tapi saya jarang merasa harus mengubah cara main. Cara yang berhasil di awal masih cukup ampuh dipakai terus menerus, jadi skill baru kadang lebih terasa sebagai tambahan variasi daripada sesuatu yang benar-benar bikin saya main dengan cara berbeda.
Combat-nya sih tetap enak, cuma rasa penasarannya memang perlahan mulai berkurang seiring progres permainan. Di tengah permainan, saya sebetulnya berharap Marvel’s Wolverine lebih sering menyodorkan situasi yang memaksa saya keluar dari pola yang sama, supaya pertarungannya tidak terlalu cepat dan terasa familiar.
Linear dan Saya Tidak Masalah dengan Itu




Salah satu keputusan Insomniac yang justru saya suka adalah meninggalkan format open-world. Marvel’s Wolverine membawa kamu melewati Kanada, Madripoor, Jepang, dan beberapa lokasi lainnya lewat jalur yang jauh lebih linear.
Saya menikmati pendekatan ini. Tidak ada map besar penuh ikon yang harus dieksploirasi dan saya tidak perlu berhenti setiap lima menit hanya karena ada side quest. Buat Wolverine, perjalanan yang lebih terfokus atau linear seperti ini terasa lebih cocok.
Hanya saja, linear bukan berarti semuanya otomatis menarik.
Eksplorasinya sendiri menurut saya cukup sederhana. Ada collectible, puzzle ringan, dan beberapa jalur tambahan yang bisa kamu cek, tetapi sebagian terasa kurang rewarding. Saya beberapa kali masuk ke area samping, berharap menemukan sesuatu yang menarik, tetapi ujung-ujungnya hanya mendapat collectible atau resource yang rasanya tidak terlalu penting.
Batas areanya juga kadang terasa kurang jelas. Ada tempat yang secara visual kelihatan seperti bisa dijelajahi, tetapi ternyata tidak bisa kamu datangi. Buat saya ini bukan masalah besar, cuma sesekali membuat dunianya terasa lebih seperti koridor yang dihias agar terlihat luas.
Jadi saya tetap suka keputusan membuat Marvel’s Wolverine linear. Saya cuma berharap area-area di sepanjang perjalanan Logan punya lebih banyak hal menarik untuk ditemukan, bukan sekadar memberi alasan kecil supaya kamu keluar sebentar dari jalur utama.
Daya Tariknya Memang di Logan, Logan, dan Logan


Kalau ada satu bagian cerita yang menurut saya cukup berhasil, itu justru Logan sendiri. Liam McIntyre tidak membawakan Wolverine cuma sebagai karakter pemarah yang kerjaannya marah-marah dan berantem saja. Ada sisi yang lebih rapuh di balik itu, terutama ketika game mulai membahas trauma, rasa bersalah, dan masa lalunya yang memang tidak sederhana.
Saya juga suka ketika game memberi ruang buat Logan berinteraksi dengan karakter lain, terutama Jean Grey dan Sabretooth. Dari situ kamu bisa melihat sisi Wolverine yang lebih personal, bukan cuma sebagai senjata berjalan. Ada hubungan, konflik, dan sejarah panjang yang membuat Logan terasa jauh lebih manusiawi.
Masalahnya, semakin jauh ceritanya berjalan, Marvel’s Wolverine juga mulai memasukkan semakin banyak elemen dari dunia X-Men. Ada Team X, Trask, Mystique, Nathaniel Essex, sampai konflik mutant yang skalanya jauh lebih besar. Buat saya, semua ini sebenarnya menarik, tetapi kadang terasa terlalu banyak untuk dimasukkan sekaligus.
Saya justru lebih menikmati ceritanya ketika fokusnya tetap ada di Logan. Begitu game mulai sibuk membuka banyak kemungkinan untuk dunia X-Men yang lebih luas, cerita personal Wolverine sedikit kehilangan ruang untuk bernapas.
Jadi, Apakah Cakarnya Sudah Setajam Itu?

Well… saya menikmati Marvel’s Wolverine. Insomniac berhasil membuat Logan terasa kuat, brutal, dan yang lebih penting, manusiawi. Buat saya, bagian tersulit dalam membuat game ini justru sudah mereka lewati.
Yang belum sepenuhnya berhasil adalah membuat semua hal di sekeliling Logan terasa sama istimewanya. Combat yang awalnya sangat satisfying perlahan menjadi familiar, aktivitas sampingannya tidak selalu menarik, sementara ceritanya punya karakter yang kuat tetapi kadang terlalu sibuk melihat ke arah yang lebih besar.
Boss fight dan eksplorasinya juga tidak selalu berada di level yang saya harapkan dari Insomniac. Bukan berarti bagian-bagian tadi buruk, cuma ketika karakter utamanya sudah terasa begitu tepat, kekurangan di sekelilingnya jadi lebih gampang kelihatan.
Jadi saya tidak punya banyak masalah dengan Wolverine di Marvel’s Wolverine. Saya cuma berharap gamenya punya sedikit lebih banyak keberanian untuk mengikuti sifat karakter utamanya: lebih liar, lebih spontan, dan sesekali tidak terlalu peduli dengan formula.
