Ketegangan di internal dan eksternal Sony Interactive Entertainment tampaknya kian memuncak pasca-pengumuman kontroversial mengenai rencana penghapusan kaset fisik pada tahun 2028.
Di tengah gelombang protes, petisi massal, hingga gugatan hukum triliunan rupiah dari Eropa, sebuah manuver finansial mengejutkan datang dari petinggi tertinggi perusahaan asal Jepang tersebut yang langsung memicu spekulasi liar di kalangan investor dan komunitas gamer.
Berdasarkan dokumen laporan resmi yang dirilis oleh badan pengawas keuangan Amerika Serikat, US Securities and Exchange Commission (SEC), Hiroki Totoki selaku Presiden Sony dilaporkan telah menjual sebanyak 56,5% saham pribadi miliknya yang ada di dalam perusahaan.

Dalam rincian dokumen tersebut, Totoki melepas sekitar 225.000 lembar saham dengan harga US$21,02 per lembar, sehingga berhasil mengantongi dana segar total mencapai US$4,7 juta (atau setara dengan Rp76 miliar lebih).
Transaksi penjualan masif ini tercatat dieksekusi pada tanggal 3 Juli 2026. Lini masa eksekusi dana tersebut dinilai sangat sensitif karena berjalan tepat satu hingga dua hari setelah PlayStation secara resmi menyulut kontroversi global terkait rencana pemusnahan media disc.
Langkah mendadak dari sang Presiden langsung menjadi komoditas perbincangan hangat di kalangan pelaku industri video game. Banyak pihak mulai membangun asumsi dan spekulasi mengenai motif di balik penjualan tersebut.

Salah satu spekulasi kuat dari para analis menilai bahwa aksi lepas saham oleh eksekutif puncak ini mengindikasikan adanya krisis kepercayaan internal terhadap prospek nilai ekonomi dan arah bisnis Sony di masa depan.
Ada pula dugaan bahwa langkah ini merupakan trik penyelamatan aset pribadi untuk menghindari kerugian besar dari potensi anjloknya harga saham perusahaan akibat sentimen negatif publik terhadap kebijakan all-digital.

Menariknya, rekam jejak “buang saham” menjelang badai korporasi bukan pertama kalinya terjadi di tubuh Sony. Mantan CEO PlayStation, Jim Ryan, tercatat pernah melakukan manuver serupa dengan menjual sebagian besar aset saham miliknya di Sony pada Desember 2023—tepat beberapa bulan sebelum dirinya resmi mengundurkan diri dari kursi kepemimpinan pada Maret 2024 silam.
Hingga informasi ini diturunkan (9/7), baik Hiroki Totoki maupun pihak humas korporasi Sony PlayStation masih memilih bungkam dan belum memberikan klarifikasi atau detail lebih lanjut mengenai alasan utama di balik pemilihan waktu penjualan saham yang sangat berdekatan dengan riak kontroversi kaset fisik ini. Komunitas finansial dan gaming kini terus memantau pergerakan bursa efek untuk melihat dampak jangka panjang dari runtutan peristiwa dalam satu pekan terakhir ini.
