Sindir Harga Steam Deck dan Kapal Pesiar Gabe Newell, Bos Epic Games Kena Rujak Netizen!


Drama antar-bos gim kembali memanas nih!

Langkah Valve menaikkan harga Steam Deck OLED hingga ratusan dolar AS baru-baru ini tampaknya tidak hanya membuat dompet para gamer menangis, melainkan juga memicu perang dingin baru antar-petinggi industri gim.

Perangkat yang awalnya dipuja-puja sebagai handheld PC paling ramah kantong ini, kini mendadak berubah menjadi panggung adu sindir yang melibatkan bos besar Epic Games.

Melalui unggahan di akun resmi X miliknya, CEO Epic Games, Tim Sweeney, kedapatan melayangkan sindiran tajam yang langsung mengarah ke bos Valve, Gabe Newell.

Dalam cuitannya, Sweeney secara sarkas mengaitkan keputusan Valve menaikkan harga Steam Deck dengan gaya hidup mewah Newell—yang emang sudah rahasia umum dikenal hobi mengoleksi kapal pesiar bernilai fantastis.

Sindiran menohok ini sengaja menyoroti kontras yang ironis: di saat konsumen dipaksa membayar lebih mahal, para petinggi teknologi di belakang layarnya justru asyik menikmati simbol kekayaan ekstrem.

Namun, alih-alih mendapatkan dukungan penuh dari komunitas, aksi pahlawan kesiangan dari Tim Sweeney ini malah berbalik menjadi bumerang. Netizen dan para gamer di X justru menyerang balik Sweeney dengan mengingatkan dosa masa lalu Epic Games yang gak kalah kelam, di mana perusahaan mereka pernah melakukan PHK massal terhadap sekitar 1.000 karyawan.

Banyak warganet menilai Sweeney munafik dan kurang berkaca, karena Epic Games sendiri terbukti tega mengambil keputusan bisnis kejam yang berdampak langsung pada nasib para pekerjanya demi efisiensi finansial perusahaan.

Di sisi lain, mayoritas pencinta teknologi juga paham kalau kenaikan harga Steam Deck ini gak sepenuhnya murni karena keserakahan Valve semata. Faktor kelangkaan RAM dan NAND flash global yang diborong habis oleh industri AI menjadi alasan utama di balik membengkaknya biaya modal komponen.

Selain itu, sebagai perusahaan privat, Valve memang tidak memiliki otot rantai pasok sebesar pabrikan konsol raksasa seperti Sony atau Nintendo yang bisa menekan harga vendor seminimal mungkin.

Pada akhirnya, perseteruan ini berkembang menjadi sebuah realita menarik yang lebih dari sekadar urusan harga gadget. Kasus ini memperlihatkan bagaimana kita, sebagai konsumen dan gamer di era modern, sudah makin kritis dalam menilai tingkah laku para CEO teknologi.

Publik kini gak bakal tinggal diam dan makin pintar menyoroti setiap keputusan bisnis yang merugikan konsumen ataupun karyawan, terutama ketika hal itu terjadi di bawah bayang-bayang gaya hidup mewah para pemiliknya.


Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Fallon4269
Fallon4269
May 30, 2026 9:44 pm
Junior

Suka banget main game terutama game kompetitif kayak League of Legends dan Dota.