NVIDIA baru saja memperkenalkan teknologi terbaru mereka bernama DLSS 5, namun bukannya disambut meriah, fitur ini malah banjir kritik dari para gamer.
Berbeda dengan versi sebelumnya yang hanya memperhalus gambar, DLSS 5 menggunakan kecerdasan buatan (AI) tingkat lanjut untuk menggambar ulang cahaya, kulit, hingga rambut karakter agar terlihat sangat nyata seperti film.
Masalahnya, banyak gamer merasa hasil gambar tersebut justru terlihat aneh dan tidak alami, bahkan ada yang menyebutnya seperti “filter cantik” di media sosial yang dipaksakan masuk ke dalam game.
Kritik paling keras datang karena AI ini dianggap terlalu mencampuri urusan seni. Gamer merasa suasana asli yang sudah dirancang susah payah oleh pembuat game, misalnya suasana gelap dan menyeramkan, malah diubah oleh AI menjadi terlalu terang atau terlalu bersih demi terlihat “realistis”.
Selain itu, wajah karakter favorit pemain seringkali berubah menjadi terlalu mulus atau berbeda dari aslinya, sehingga kehilangan ciri khas yang selama ini disukai.

Bagi banyak orang, teknologi ini dianggap merusak visi asli para seniman pembuat game hanya demi mengejar grafik yang tampak nyata namun terasa hampa. Meskipun NVIDIA mengklaim bahwa pembuat game tetap punya kendali penuh, perdebatan ini menunjukkan bahwa tidak semua kemajuan teknologi AI otomatis dianggap sebagai hal baik, terutama jika sudah mulai mengubah estetika dan jiwa dari sebuah permainan.
