Mengapa Harvest Moon Back To Nature Begitu Berkesan di Hati Gamers Milenial?


Apa sih yang bikin gim "simulasi jadi petani" ini begitu membekas sampai sekarang?

Bagi generasi milenial, ada satu suara yang kalau didengar sekilas saja bisa langsung memicu serangan nostalgia hebat, yakni denting piano musik musim semi di sebuah peternakan virtual.

Ya, kita bicara tentang Harvest Moon: Back to Nature. Meskipun teknologi gim sudah melesat jauh hingga ke era Unreal Engine 5, gim rilisan tahun 1999 di PlayStation 1 ini tetap punya tempat suci yang tak tergantikan di hati para pemainnya.

Tapi, apa sih yang bikin gim “simulasi jadi petani” ini begitu membekas sampai sekarang?

Di zaman warnet dan PlayStation rental masih berjaya, Harvest Moon: Back To Nature menawarkan sesuatu yang sangat langka: ketenangan.

Bagi anak sekolah atau remaja milenial saat itu, rutinitas menyiram tanaman, memberi makan ayam, dan menambang adalah bentuk meditasi yang menyenangkan.

Gim ini tidak menuntut kamu untuk punya refleks cepat seperti Tekken atau strategi perang ala StarCraft. Kamu hanya perlu bangun pagi, menyapa penduduk desa, dan melihat peternakanmu berkembang perlahan tapi pasti.

Harvest Moon: Back To Nature bukan sekadar soal mencangkul tanah. Gim ini adalah simulasi kehidupan sosial yang sangat emosional.

Kita semua pasti punya memori tentang “perjuangan” mengejar gadis impian di desa Mineral Town—apakah itu si pintar Mary, si enerjik Ann, atau si anggun Elli.

Setiap festival, mulai dari Balap Kuda hingga Malam Tahun Baru di puncak gunung, memberikan rasa kepemilikan dan kedekatan dengan penduduk desa yang memiliki kepribadian unik dan cerita latar yang terkadang cukup dewasa.

Sebelum era internet memudahkan segalanya dengan satu klik Google, Harvest Moon: Back To Nature penuh dengan legenda urban dan misteri yang beredar dari mulut ke mulut.

Siapa yang ingat rumor tentang “menikah dengan Harvest Goddess” atau cara mendapatkan “Power Berry” yang tersembunyi?

Ketiadaan akses informasi instan saat itu justru membuat setiap penemuan baru terasa seperti pencapaian besar yang wajib dipamerkan ke teman-teman saat istirahat sekolah.

Tanpa kita sadari, gim ini mengajarkan banyak nilai hidup kepada kaum milenial.

Kita belajar manajemen waktu (karena jam 6 sore toko sudah tutup!), manajemen keuangan (untuk beli bibit atau upgrade rumah), hingga konsistensi.

Kalau kamu lupa kasih makan sapi, mereka sakit. Kalau kamu terlalu malas bekerja, kebunmu penuh rumput liar.

Pelajaran-pelajaran kecil inilah yang tanpa sengaja membentuk kedisiplinan dengan cara yang sangat seru.

Harvest Moon: Back to Nature lebih dari sekadar gim; ia adalah mesin waktu.

Bagi milenial yang sekarang mungkin sedang bergelut dengan hiruk-pikuk dunia kerja dan tanggung jawab orang dewasa, mengingat kembali masa-masa mengejar kurcaci untuk membantu di kebun adalah cara untuk kembali ke masa yang lebih sederhana.

Gim ini membuktikan bahwa kebahagiaan terkadang bisa ditemukan dalam hal-hal kecil: seperti melihat sebutir telur emas di pagi hari yang cerah.


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Junior

Demen game kompetitif, kayak Dota dan League of Legends.