Majunya teknologi dan penggunaan internet di era modern ini jelas mengubah banyak aspek di kehidupan setiap orang. Salah satu hal yang berubah akibat internet adalah bagaimana game bisa dipasarkan secara organik terutama lewat video di YouTube. Lewat konten tersebut, sebuah game bisa saja jadi lebih populer dari yang semestinya.
Semua genre game punya jenis konten yang berbeda. Ada yang memperlihatkan gameplay, ada yang menjabarkan tips beramain, lalu ada juga yang membuat kompilasi konten dalam game. Misalnya untuk game naratif kamu akan sering menemukan kompilasi cut-scene game tersebut dari awal sampai tamat. Lalu untuk game fighting, kamu mungkin akan melihat kumpulan jurus atau interaksi unik antara setiap karakter.
Kalau kamu bukan YouTube sekarang, kamu harusnya bisa menemukan video seperti kumpulan jurus super untuk setiap game fighting. Alasan kenapa video kompilasi seperti ini ada karena jurus-jurus ini memang terlihat keren.
Namun ada satu game yang sepertinya akan selalu jadi musuh YouTube: Mortal Kombat. Alasannya jelas, serial Mortal Kombat tidak pernah tanggung-tanggung dalam memperlihatkan kekerasan. Jangankan finisher Fatality-nya, jurus seperti Fatal Blow/X-Ray atau Brutality di Mortal Kombat selalu memperlihatkan gerakan yang membuat lawannya pasti bersimbah darah. Masalahnya, YouTube tidak suka video yang memperlihatkan kekerasan berlebih.
Jadi video-video berisi komilasi jurus Mortal Kombat modern biasanya tidak bisa dimonetisasi atau mungkin bahkan tidak boleh tayang.
Per tahun 2019, tahun Mortal Kombat 11 rilis, penggemar dan kreator yang suka membuat video untuk game tersebut kesulitan untuk mendapatkan memonetisasi video mereka. Ini ternyata tidak hanya untuk kompilasi jurus seperti Fatality saja.
Bahkan video gameplay biasa saja bisa dikenai hukuman oleh YouTube. Memang, hukuman ini hanya sebatas tidak bisa memasang iklan di video atau hingga mendapatkan age restriction. Artinya untuk menonton video tersebut kamu harus login dulu atau di beberapa negara tidak bisa sama sekali. Paling parah lagi, bahkan kata kunci Mortal Kombat dan yang terkait dengan game itu juga akan mendapatkan perlakuan yang sama.
Salah satu kreator game fighting besar di YouTube, Maximilian Dood, bahkan mengaku bahwa setiap kali ia merilis video Mortal Kombat 11, video tersebut akan mendapatkan age restriction atau tidak bisa dipasangi iklan hanya dalam kurun waktu 24 jam.
Banyak yang mencoba mengakali aturan ini, misalnya menggunakan karakter yang bukan manusia seperti D’Vorah sebagai ‘korban’ untuk kompilasi jurus. Untuk yang membuat video gameplay, ada yang memasang filter warna untuk momen-momen yang dianggap tidak disukai oleh YouTube, atau bahkan menghapusnya sejak awal. Namun akal-akalan tersebut sepertinya juga tidak sukses. Kalau kamu penasaran, coba cari video Mortal Kombat di YouTube tanpa AdBlock, dan hitung berapa banyak video yang punya iklan.
Menyinggung kembali pernyataan saya di awal, saat ini konten di YouTube adalah salah satu faktor yang membuat sebuah game bisa populer dan relevan. Semakin banyak kreator yang membuat video untuk satu game, makin besar peluang game tersebut untuk populer, menarik perhatian, dan tetap diperbincangkan. Namun jika membuat video untuk game tersebut ternyata tidak menghasilkan apa-apa secara finansial, kreatornya tentu akan lebih memilih membuat video untuk game lain.
