Setiap beberapa tahun sekali, dunia game selalu kehadiran teknologi baru yang menarik perhatian. Teknologi baru ini juga biasanya mendapatkan sorotan banyak orang.
Hanya saja, tidak selamanya teknologi tersebut berbuah manis.
Banyak di antaranya bahkan berakhir mengecewakan.
Sebagai contoh, beberapa tahun lalu kita kedatangan Stadia dari Google yang setelah beberapa bulan tutup begitu saja. Lalu tahun 2013 lalu ada satu lagi yang tidak kalah menarik dan spektakuler yaitu Ouya.
Buat kamu yang tidak tahu, Ouya adalah sebuah console yang digadang akan menjadi pesaing baru untuk Sony, Microsoft, dan Nintendo. Proyek ini dimulai di Kickstarter tahun 2012, platform yang pada saat itu memang sedang sering menghadirkan proyek menarik yaitu menghadirkan console berisi game-game ternama yang bisa kamu mainkan gratis. Tidak hanya hadir dengan software dan user interface buatan sendiri, console yang disertakan controller ini juga dijual hanya dengan harga US$99. Sebagai perbandingan, saat ini controller Playstation 5 umumnya adalah US$59,99.

Karena idenya menarik dan harganya sangat terjangkau, Kickstarter Ouya dengan cepat mencapai target dana yang mereka incar. Bahkan dalam waktu dua hari, Ouya mendapatkan dana sampai US$3,7 juta dan hingga campaign-nya tutup mencapai US$8,5 juta.
Hanya saja kalau kamu melihat halaman campaign-nya sekarang, kamu mungkin heran mengapa proyek ini bisa mengumpulkan jutaan dolar. Idenya menghadirkan pengalaman gaming ke layar TV dengan perangkat spesifikasi Android tergolong mustahil bahkan di era 2012-2013. Tidak hanya itu, meskipun punya ekosistem yang terbuka dan mengundang developer membuat game untuk Ouya kapan saja, meyakinkan developer untuk mau membuat game keren di Ouya jelas perlu usaha.

Pada akhirnya, saat rilis pertama kali untuk pendukung Kickstarter tahun 2013, mimpi kosong Ouya sudah langsung terlihat. Secara software, console ini sama sekali tidak menghadirkan game yang membuatmu berdecak kagum dan performanya pun mengecewakan. Lalu dari segi hardware, console ini juga bisa kamu buka dengan obeng biasa.
Controller-nya yang digadang sebagai ‘kelas dunia’ juga sangat mengecewakan. Tombolnya tidak nyaman dan sering tersangkut, analog stick-nya mudah rusak, dan plastik yang menutup bodi bagian depannya juga bisa lepas dengan mudah.
Meskipun mampu berbenah ketika rilis di retail di pertengahan tahun 2013, Ouya tetap tidak bisa menghadirkan apa yang dijanjikan. Meskipun sangat terjangkau, library game-nya masih minim dan tidak memberikanmu alasan untuk membeli. Pada akhirnya, tahun 2015, perusahaan Ouya dijual karena terlilit utang. Razer bersedia jadi pembeli, dan di tahun 2019 menutup semua akun Ouya.

Pada akhirnya, Ouya adalah satu dari sangat banyak Kickstarter yang berakhir mengecewakan. Ini juga jadi pelajaran bahwa membuat console game baru tidaklah mudah.
