Saat ini internet sedang diramaikan dengan perilisan serial fiksi yang diadaptasi dari game keluaran Naughty Dog dengan judul yang sama, yaitu The Last of Us. Setelah adanya banyak projek live action dari sebuah game, projek satu ini bisa dibilang sukses menjadi salah satu yang terbaik. Mulai dari 1:1 kesamaan dengan versi gamenya, penulisan script yang bagus sampai ke akting para pemainnya yang sangat pas dengan nuansa ceritanya.
Namun, seperti projek adaptasi game pada umumnya, terkadang akan ada satu atau dua hal yang berbeda, dan The Last of Us juga seperti itu.
Ada banyak atau informasi yang masih kosong dari versi game ketika menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di dunia sebelum inveksi virus terjadi. Melihat kekosongan plot cerita ini, pihak creator dari acara ini mengambil kesempatan ini untuk menceritakan plot kosong tersebut.
BACA JUGA: Ketahui 5 Tanda “Red Flag” Sebuah Game yang Mungkin Kualitasnya Tidak Bagus Pada Saat Dirilis!
Sebelumnya pada episode pertama kita sudah sempat mendengar nama kota “Jakarta” yang sempat disebutkan oleh sang peran utama, Joel. Sekarang, pada episode kedua kita diperlihatkan lebih jauh lagi apa yang sebenarnya terjadi di kota Jakarta ini.
Jika kalian sudah menyaksikan episode kedua, maka kalian tahu kalau Jakarta, ternyata telah dicap sebagai kota pertama yang menyebarkan virus inveksi wabah ini.
Dalam sesi opening dari episode kedua, kita diperlihat sebuah flashback dari kota Jakarta pada tanggal 24 September 2003. Disana kita diperlihatkan seorang tokoh Ibu Ratna yang diperankan oleh aktris Indonesia, Christine Hakim.
Ibu Ratna adalah seorang ilmuan dari Universitas Indonesia dan dirinya telah menghabiskan waktu seumur hidupnya untuk mempelajari permasalahan virus dan wabah jamur ini.

Dalam scene opening yang mungkin bisa membuat kalian merinding ketika menyaksikannya, di sana Ibu Ratna menjelaskan keadaan yang akan dihadapi oleh umat manusia karena virus ini. Mulai dari nuansa, ekspresi para pemain sampai ke tingkat ketegangan yang ada, kita yakin kalian akan suka dengan scene pembuka di episode dua ini.
Craig Mazin selaku co-creator dari acara ini mengatakan kalau serial fiksi The Last of Us ini ingin terasa global dan tidak terasa Amerika saja. Sehingga, membuatnya lebih global dan membawa negara lain, sukses membawa nuansa horror kalau seluruh dunia juga ikut terkena dampak menyeramkan ini.
“Kita tahu kalau kita ingin memberikan lebih banyak origin story dari game ini, dan kita ingin memberit tahunya di bagian awal-awal acara. Kita ingin membuat keadaannya secara global, kita ingin memberi tahu kalau keadaan (outbreak) ini tidak hanya terjadi di Amerika saja, tapi seluruh dunia.”
Craig Mazin, The Last of Us Live Action Co-Creator.

Sejauh ini, serial fiksi The Last of Us sukses memberikan apa yang diminta oleh para pemain gamenya.
Baru memasuki episode keduanya, namun acara ini sudah sukses memberikan peningkatan angka penonton bagi HBO MAX, dan pemain The Last of Us itu sendiri tercatat ikut mengalami peningkatan.
Jika kalian sedang mencari live action yang bagus dari adaptasi game, maka acara ini bisa kalian pilih.
