SquareEnix sekali lagi merilis game yang melibatkan Yoko Taro sebagai Creative Director. Game yang dirilis kali ini berjudul Voice of Cards: The Isle of Dragon Roars. Jika dilihat sekilas, game ini terlihat seperti RPG yang menggunakan mekanisme kartu. Awalnya saya sempat mengira bahwa game ini akan mirip seperti Slay The Spire tapi dengan elemen cerita yang lebih panjang. Tapi pengalaman yang saya dapatkan jauh berbeda dari yang saya kira.
Sayangnya meskipun memberikan pengalaman yang benar-benar baru, keunikan yang dihadirkan Voice of Cards juga sekaligus menjadi kelemahannya.
Bermain TTRPG Sendirian Bersama GM

Voice of Cards adalah game JRPG yang terbilang cukup tradisional. Tapi satu hal yang membuatnya sangat unik adalah game ini dikemas seolah kamu sedang bermain TTRPG seperti Dungeons and Dragons.
Kamu tetap mengendalikan karakter dan party kamu di sebuah overworld dan mengikuti cerita yang cukup linier. Bedanya adalah jika di game RPG umumnya kamu mengendalikan karakter dengan mode 2D atau 3D, di sini segala sesuatunya diperlihatkan dalam bentuk kartu. Segala sesuatunya, mulai dari karakter, NCP, item, hingga dinding dan tanah yang membentuk overworld-nya terdiri dari kartu.
BACA JUGA: Hadirkan Karakter League of Legends, PUBG Mobile Resmi Berkolaborasi dengan Arcanea
Karakter-karakter dalam permainan juga tidak bicara dan mereka juga tidak membawakan cerita dalam permainan secara langsung. Sebagai gantinya cerita dalam permainan dibawakan oleh seorang narator yang seolah berperan sebagai game master (GM) di sebuah sesi TTRPG yang kamu mainkan sendiri. GM ini tidak hanya membawakan cerita dalam permainan, tapi juga sesekali memberikan komentar singkat ke hal yang kamu lakukan dalam permainan.

Karena masih game RPG, kamu tentunya tetap akan melakukan eksplorasi dan berpindah tempat. Seperti yang kami sebutkan di atas, overworld di game ini dibentuk dari sangat banyak kartu dinding, tanah/lantai, dan hazard yang beragam. Diwakilkan dengan sebuah pion, kamu bergerak dengan menggeser pion ini ke petak yang tersedia. Menariknya adalah area yang tertutup fog of war akan diperlihatkan dalam bentuk kartu yang tertutup. “Kartu” ini akan terbuka jika kamu pindah ke petak di sampingnya.
Elemen TTRPG juga hadir ketika kamu melakukan eksplorasi. Sesekali kamu akan menemui special event seperti petunjuk ke lokasi sebuah peti harta atau hazard seperti angin topan atau longsor. Tidak hanya itu hasil beberapa special event ini juga ditentukan dengan lempar dadu. Misalnya ketika ada angin topan, apakah angin tersebut akan melukai party-mu tergantung pada hasil lemparan dadu.

Combat di game ini menggunakan sistem turn-based tradisional. Dari total lima orang anggota party, kamu bisa membawa tiga ke pertarungan, masing-masing dengan segudang kemampuan yang berbeda. Tapi meskipun punya banyak ability, satu karakter hanya bisa membawa empat ability ke dalam combat. Jadi kamu harus bisa meramu strategi dan cara bermain yang solid dan siap menghadapi apa saja.
Elemen TTPRG dan board game juga hadir dalam combat game ini. Mana diganti dengan Gem yang tersedia untuk semua karakter. Beberapa ability hanya bisa digunakan jika kamu punya Gem yang cukup. Tidak hanya itu, kekuatan dan efek beberapa ability juga ditentukan dengan lemparan dadu. Misalnya Poison Arrow baru bisa menghasilkan efek Poison ketika kamu melempar dadu 10 sisi dan mendapatkan angka empat atau lebih.

Semua elemen gameplay di Voice of Cards menekankan bahwa kamu sebenarnya sedang bermain TTRPG seorang diri bersama seorang GM yang sudah menyiapkan cerita dan aset untuk menghiburmu selama beberapa jam. Artinya layaknya sebuah sesi TTRPG, Voice of Cards sebaiknya dimainkan ketika kamu bersantai dengan minuman panas. Apalagi cerita game ini juga cukup menarik untuk disimak.
Membawa Kekurangan TTRPG

Karena punya “rasa” TTRPG, Voice of Cards menyajikan pengalaman RPG yang sangat unik dan jarang kamu temui di game digital. Tapi hal yang sama juga menjadi sumber kekurangan game ini.
Pertama, penyajian cerita dalam game ini jelas tidak untuk semua orang. Setiap scene hanya digambarkan dengan gerakan kartu karakter-karakter yang ada. Selain itu tidak adanya voice acting dan background story dari masing-masing karakter juga membuat karakter ini tidak terlalu berkesan. Cukup disayangkan padahal karakter-karakter party-mu terlihat menarik ketika mereka diperkenalkan.
Satu lagi yang menurut saya jadi kekurangan utama di game ini adalah combat. Di luar sistem manajemen Gem, combat di Voice of Cards terbilang sangat tradisional. Artinya satu-satunya tantangan utama yang akan kamu hadapi adalah min-maxing atau mengoptimalkan tim combat kamu.

Setelah latihan dan percobaan, kamu harusnya tidak akan berpindah dari tim tersebut. Kecuali bos terakhir, musuh dalam permainan juga hampir tidak pernah memberikanmu tantangan berarti. Game ini juga sepertinya terlalu baik dalam memberikan EXP dan membuatmu bisa mencapai level maksimum bahkan tanpa grinding. Menggabungkan semua faktor tersebut, combat lama-lama jadi repetitif dan minim variasi. Ditambah dengan random encounter, combat di late game jadi sangat menjemukan apalagi di late game ketika dungeon yang kamu telusuri cukup panjang/dalam.
Untungnya kekurangan ini tidak terlalu terasa game ini bisa kamu tamatkan dalam waktu sekitar sembilan jam. Tidak hanya itu late game dungeon yang panjang juga hanya ada satu sehingga kejenuhan dalam combat tidak akan terlalu terasa. Tapi dengan waktu gameplay yang hanya sembilan jam dan replay value yang bisa dibilang nol, Rp420.000 (Steam) mungkin terlalu mahal.
Voice of Cards sukses memberikan pengalaman RPG yang unik dengan sentuhan-sentuhan ala TTRPG di banyak elemen gameplay-nya. Jika kamu suka game RPG dengan gaya estetika unik dan cocok dimainkan sambil santai, game ini mungkin bisa kamu pertimbangkan. Tapi mengingat harganya yang terbilang mahal untuk RPG yang hanya punya gameplay time sembilan jam, menunggu diskon saya rasa lebih bijak. Kecuali kamu memang suka game unik seperti ini dan/atau penggemar berat Yoko Taro.
