CEO Agate: Sebagian Besar Gamer Indonesia Cinta Produk dalam Negeri


Tak jarang gamer Indonesia kecewa melihat produk lokal kalah mutu dengan game luar negeri, tapi sebetulnya jauh lebih banyak yang mendukung.

Game buatan developer Indonesia dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir telah menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Kalau dibandingkan dengan satu dekade lalu, image “game Indonesia” cenderung identik dengan game kasual simpel di platform Flash. Kini sudah banyak developer yang menunjukkan kualitasnya baik dari segi visual, narasi, hingga musik, dan merambah ke platform mainstream modern.

BACA JUGA: Mengenal IGRS! Sistem Rating Game dari Indonesia

Memang mesti kita akui bahwa level kualitas itu masih bisa ditingkatkan lebih jauh lagi, apalagi bila kita menginginkan kualitas AAA seperti studio-studio senior di Jepang atau Amerika. Namun semua itu tentu tidak instan, butuh proses serta dukungan dari berbagai pihak termasuk dari para gamer. Tak jarang kita melihat ada gamer yang kecewa melihat kualitas game Indonesia masih kalah dibandingkan game luar negeri.

Arief (kedua dari kiri) saat peluncuran game Esports King | Sumber: Ellavie I. A./Hybrid

Apakah ini berarti mayoritas gamer di Indonesia memang kurang suka produk developer Indonesia? Belum tentu. CEO dan Co-Founder Agate, Arief Widhiyasa, mencoba menelusuri data respons konsumen yang ia kumpulkan dari berbagai sumber, seperti komentar media sosial, email, pesan di messenger, review, dan lain-lain. Total ada sekitar 150.000 komentar yang ia kumpulkan, dari hasil penelusuran respons lebih dari 7.000.000 user Agate selama 2 tahun terakhir.

Arief kemudian menggunakan suatu tools untuk menganalisis, apakah respons konsumen itu bernada positif (mendukung), netral, atau negatif (membenci) produk mereka. Hasilnya ditemukan sebagai berikut:

  • 87,38% cenderung positif. Banyak user yang memberikan dukungan.
  • 5,05% cenderung netral. Hanya menjabarkan gameplay atau laporan bug.
  • 7,57% cenderung negatif. Sebagian berisi feedback tentang cara membuat game jadi lebih baik, namun ada juga yang membenci.

Dari data ini Arief menyimpulkan bahwa meskipun ada konsumen lokal yang berkomentar negatif (bahkan “super-hateful” alias penuh kebencian), sebetulnya porsinya sedikit sekali. Masih jauh lebih banyak gamer Indonesia yang cinta dan sangat mendukung perkembangan game produksi dalam negeri.

Beberapa contoh komentar yang dikumpulkan Arief | Sumber: Arief Widhiyasa

Arief kemudian berpesan kepada sesama developer lokal agar tetap semangat berkarya dan meyakinkan bahwa pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja. Justru merupakan tugas merekalah sebagai developer untuk senantiasa menghibur para user.

Ia berkata (diterjemahkan dari bahasa Inggris), “Ya benar, kita perlu menemukan audiens yang tepat untuk game buatan kita. Tapi tidak ada untungnya merendahkan atau bahkan menggeneralisasi sekumpulan gamers. Kita tidak melakukan hal baik untuk industri (game Indonesia), hanya merusak dengan bertingkah seperti itu.”

Celestian Tales: Realms Beyond, salah satu produk Agate yang akan terbit tahun ini | Sumber: Steam

Arief juga memberi catatan khusus bahwa developer tidak bisa meminta dukungan begitu saja tanpa menyajikan produk yang baik. Developer Indonesia wajib fokus pada peningkatan kualitas, hingga suatu hari nanti kita bisa berdiri sejajar dengan produk-produk luar negeri. Jika sudah begitu, maka kecintaan gamer lokal serta dukungan mereka otomatis akan datang sendiri.

“Pernyataan ‘Gamer Indonesia Support & Cinta Game Produksi Dalam Negeri’ ini dengan asumsi bahwa kita menyajikan pada mereka sebuah produk yang jika dibandingkan dengan produk-produk yang sekarang ada di pasaran, memang memiliki kualitas yang layak/lebih baik; bukan dengan cara menyajikan produk yang lebih buruk lalu mengemis dukungan,” pungkas Arief.


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Ayyub Mustofa

Jarang main game sampai tamat kecuali untuk review. Menyukai hampir semua genre, dan hingga kini masih menunggu kemunculan Megaman X9.