Aturan Baru di Jepang Batasi Waktu Main Game Anak-Anak Maksimal 1 Jam Sehari


Aturan baru ini berlaku mulai tanggal 1 April 2020 dan mendapat tentangan dari banyak pihak, termasuk Katsuhiro Harada sang kreator Tekken.

Main game memang kegiatan yang menyenangkan, bahkan bisa bermanfaat baik secara fisik ataupun mental. Namun bila tidak terkendali, kecanduan game juga punya potensi membahayakan. Hal ini sudah menjadi perhatian pemerintah di sejumlah negara, salah satu yang terkenal adalah Cina dengan aturan pembatasan jam mainnya. Jepang rupanya sekarang mengikuti jejak langkah yang sama.

Dikabarkan oleh Siliconera, pemerintah daerah salah satu prefektur (provinsi) di Jepang yaitu Kagawa telah meluncurkan aturan baru untuk membatasi jam main anak-anak di bawah usia 18 tahun. Anak-anak hanya diperbolehkan untuk bermain game selama maksimal 60 menit dalam sehari, atau 90 menit bila sedang hari libur.

Sumber: Siliconera

Aturan ini juga membatasi penggunaan smartphone, di mana anak-anak hanya boleh memakai smartphone maksimal hingga jam 10 malam. Kabarnya, rancangan awal aturan ini sempat lebih ketat lagi, namun setelah diskusi beberapa bulan akhirnya diputuskanlah batasan seperti di atas. Prefektur Kagawa memberlakukan aturan ini mulai tanggal 1 April 2020.

BACA JUGA: Game PS4 Terbaru yang Wajib Dimainkan Bulan April 2020

Katsuhiro Harada yang terkenal sebagai sosok penting di balik seri Tekken turut mengomentari diluncurkannya aturan tersebut. Menurutnya, aturan ini hanyalah cara para orang tua yang gagal mendidik anak untuk mencari kambing hitam. Ia juga berkata bahwa para pembuat aturan tersebut memiliki “otak yang membosankan”, dan tidak bisa memberikan ide-ide hebat maupun inspirasi pada generasi muda.

Video game memang sudah sering sekali dianggap jadi biang kerok berbagai macam permasalahan. Mulai dari kenakalan remaja, kekerasan bersenjata, hingga penistaan agama, rasanya kita yang sudah lama jadi gamer pun sudah bosan mendengar video game dicap negatif karena hal-hal tersebut. Aturan baru ini pun sebetulnya mendapat tentangan dari banyak pihak, termasuk dari salah satu profesor bidang hukum di Kagawa University.

Untungnya aturan baru ini hanya berlaku di satu prefektur, bukan seluruh Jepang. Harada juga berkata bahwa kemungkinan para developer game di Jepang tidak akan terpengaruh, sebab mayoritas penjualan game mereka terjadi di pasar Amerika Serikat dan Eropa. Namun munculnya aturan ini memiliki dampak buruk bagi kultur di Jepang, dan bisa saja memicu kemunculan aturan yang sama di wilayah-wilayah lain.


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Ayyub Mustofa

Jarang main game sampai tamat kecuali untuk review. Menyukai hampir semua genre, dan hingga kini masih menunggu kemunculan Megaman X9.