Nama Amnesia: The Dark Descent dan franchise Penumbra di masa lalu memang cukup bisa menggetarkan para gamer. Tema horor yang diangkat cukup unik dan menjadikan dua game tersebut salah satu yang wajib dimainkan oleh para pecinta game horor. Bagusnya game tersebut tak lepas dari peran sang developer, Frictional Games yang cukup jenius.
BACA JUGA: Deretan Karakter Wanita Terbaik di Video Game Versi Gimbot
Kabar terbaru menuturkan bahwa Frictional Games kembali dengan Amnesia di tahun 2020. Game terakhir yang mereka buat adalah SOMA yang meluncur beberapa tahun lalu. Game Amnesia terbaru yang bertajuk Amnesia: Rebirth langsung mendapatkan sambutan positif oleh gamer. Pasalnya, berbeda dengan Amnesia: A Machine for Pig, Amnesia: Rebirth diprediksikan bersinggungan langsung dengan lore Amnesia: The Dark Descent.
Jika kalian tahu mengenai karyanya? Apakah sebelumnya kalian tahu siapa Frictional Games? Mengapa mereka bisa begitu digdaya dengan diterimanya setiap karya yang mereka kerjakan? Buat yang penasaran, Gimbot bakal membahas singkat mengenai Frictional Games.
1. Dibuat oleh Hanya Dua Orang

Frictional Games AB merupakan pengembang video game indie asal Swedia yang berbasis di Kota Malmo. Developer yang satu ini didirikan pada Januari 2007 oleh dua orang yaitu Thomas Grip dan Jens Nilsson. Meski dibuat oleh dua orang, Frictional Games tetap konsisten dan selalu memukau para penggemar game. Ya, mereka adalah developer yang konsisten mengembangkan game survival horror.
Gilanya, baik Thomas Grip dan Jens Nilsson bukanlah orang yang punya banyak bekal dan pengetahuan terkait industri game. Mereka hanya memiliki sedikit pengalaman professional di industri game, itu pun hanya sebagai pekerja lepas. Dalam kiprahnya, kedua orang ini membuat sebuah proyek bernama Unbirth yang kemudian dibatalkan.
Meski didirikan dua orang, tapi ketika Frictional dibuat, baik Grip atau Nilssen juga dibantu oleh pekerja lainnya yang bekerja secara remote dari belahan Eropa lainnya.
2. Memulai Karya Pertama dengan Penuh Masalah

Salah satu hal yang cukup sulit ketika membuat studio sendiri adalah tentunya memulai sebuah karya. Ya, Frictional Games tak mulus begitu saja mengembangkan karyanya karena saat mereka membuat Penumbra: Overture di tahun 2007, awalnya mereka ingin menjadikan ini sebagai game pertama dari sebuah trilogy. Tapi sayangnya, karena masalah dengan publisher, Lexicon Entertainment, Frictional harus bekerjasama dengan penerbit lain yaitu Paradox Interactive.
Di bawah Paradox, barulah Frictional berhasil dengan mulus meluncurkan dua game tersisa dari trilogy yang ingin mereka buat. Kedua game ini dibuat dalam satu judul bernama Penumbra: Black Plague yang dirilis tahun 2008 diikuti dengan sejumlah DLC yaitu Penumbra: Requiem yang dirilis di tahun yang sama.
BACA JUGA: Beberapa Detail Terbaru Mengenai Game Amnesia: Rebirth
Sayangnya, meski seri ini sukses secara finansial, mereka harus menghadapi beberapa masalah yang kemudian membuat hubungan antara Frictional dengan Paradox renggang.
3. Bangkit Menjadi Salah Satu Developer Kenamaan
Renggangnya hubungan Frictional dan Paradox membuat keduanya harus berpisah di proyek selanjutnya. Ya, Frictional berniat untuk menerbitkan sendiri game bikinan mereka hingga akhirnya selesailah proyek fenomenal di tahun 2010 yaitu Amnesia: The Dark Descent. Saat dirilis, game ini secara umum bisa dianggap menguntungkan.
Di bulan pertama game tersebut dirilis, game itu terjual 36 ribu copy dengan total terjual sebanyak 1,3 juta copy dalam dua tahun. Jumlah sebanyak ini membuat Frictional Games mendapatkan untung sekitar us$3,6 juta. Hal ini sudah berkali-kali lipat dari jumlah budget pembuatan game ini di mana game tersebut hanya dibuat menggunakan anggaran sebesar US$360 ribu.
Tapi bak pisau bermata dua, kesuksesan Amnesia justru membuat Frictional takut untuk melanjutkan serinya. Mereka takut pembuatan yang salah sasaran akan menjadikan franchise ini gagal total. Sebagai gantinya, mereka mengajak developer lain untuk bekerjasama dan Frictional hanya memposisikan diri sebagai publisher saja. Ya, di tahun 2013, hasil kerjasama ini menelurkan game berjudul Amnesia: A Machine for Pig.
4. Diam-diam Mengembangkan Game Baru
Selama masa pembuatan Amnesia: A Machine for Pig, ternyata diam-diam Frictional Games mengembangkan game baru berjudul SOMA. Ya, dua tahun berselang, SOMA diluncurkan tepatnya tahun 2015 di mana jumlah penjualannya lebih tinggi dibandingkan Amnesia: The Dark Descent di awal-awal peluncurannya. SOMA menjual 92 ribu unik dalam waktu sepuluh hari sedangkan The Dark Descent terjual hanya 82 ribu saja.
Bahkan di tahun pertama, SOMA sukses terjual 450 ribu unit sedangkan Amnesia: The Dark Descent hanya terjual 390 ribu saja. Sejak SOMA, Frictional Games seakan menghilang dan tak terdengar kabar apapun. Kabar terakhir yang didapat adalah di tahun 2016 ketika mereka mengembangkan dua game baru.
Selang beberapa tahun tepatnya di tahun 2020, Frictional datang dengan kabar mengejutkan di mana mereka siap merilis Amnesia: Rebirth yang bakal dirilis pada musim gugur 2020. Frictional sendiri sudah melemparkan trailer perdana terkait game yang satu ini. Game ini adalah tindak lanjut dari lore Amnesia: The Dark Descent yang dirilis 10 tahun sebelumnya.
5. Punya Engine Game Sendiri

Meski dibuat oleh dua orang yang tak memiliki pengalaman banyak di industri game dan juga statusnya sebagai studio indie, kenyataannya Frictional Games justru memiliki engine game sendiri bernama HPL Engine. HPL Engine diambil dari nama seorang penulis kenamaan H.P. Lovecraft. HPL Engine 1 digunakan untuk membuat Penumbra.
