Genre horor mungkin masih menjadi salah satu genre primadona di industri game. Ya, setiap tahun, makin banyak sekali game-game horor unik yang berkualitas untuk dinikmati. Selain itu, tiap developer juga terkadang membawa selera atau semangat baru terkait game horor yang mereka buat.
Salah satu developer yang sempat mencuri perhatian adalah Red Barrels. Developer yang satu ini memang bukan developer kelas atas macam Ubisoft Montreal atau CD Projekt Red khususnya dari segi keuangan. Tapi jika dilihat dari segi kualitas, Red Barrels jelas bisa diadu dengan developer manapun baik indie maupun developer kelas satu.
Baru ada tiga game yang sejatinya dibuat oleh Red Barrels yaitu Outlast (2013), Outlast: Whistleblower (2014), dan Outlast 2 (2017). Menariknya, ketiga game itu diluncurkan multiplatform baik console (PlayStation 4, Xbox One, Nintendo Switch) dan PC (macOS, Linux, dan Windows). Performanya pun juga sangat brilian karena sejauh ini tidak ada komplain berlebihan terkait game-game Red Barrels.
BACA JUGA: Demo eFootball PES 2020 – Menjanjikan Sepak Bola Realitas
Lantas bagaimana sejarah developer yang satu ini? Mengapa bisa mereka membuat tiga game berkualitas sehingga membuat mereka untung dari segi keuangan? Mari kita kenalan singkat.
Red Barrels Inc. merupakan pengembang game dari Kanada yang berbasis di Montreal. Perusahaan ini didirikan oleh tiga orang bernama Philippe Morin, David Chateauneuf, dan Hugo Dallaire pada tahun 2011.
Sebelumnya, ketiga sekawan ini merupakan karyawan Ubisoft Montreal dan EA Montreal. Satu tahun berselang, ketiga sekawan ini membuat proyek pada Juli 2012 dan diketahui game itu adalah Outlast.
Seperti yang saya sebutkan, ketiga sekawan ini tadinya bekerja di Ubisoft Montreal dan EA Montreal. Chateauneuf bahkan pernah bekerja untuk proyek Tom Clancy sedangkan Morin dan Dallaire mengembangkan Prince of Persia: The Sands of Time.
Lika-liku tiga sekawan ini pada akhirnya berakhir di Red Barrels dengan Chateauneuf sebagai orang yang paling terakhir bergabung. Di awal-awal pembuatan Red Barrels, mereka kesulitan dalam memperoleh dana. Untungnya, Canada Media Fund memberikan mereka dana sebesar CA$300.000 (2012-2013) dan CA$1 juta (2013-2014).
Di bulan Oktober 2012, mereka mengumumkan Outlast yang akhirnya dirilis pada September 2013. Oktober di tahun berikutnya, Morin mengumumkan bahwa sekuelnya, Outlast 2, sedang dalam pengembangan yang akhirnya meluncur pada April 2017.
Saat ini, Red Barrels sedang disibukkan untuk menyelesaikan komik mini seri The Murkoff Account yang nantinya bakal ada lima buah edisi. Komik ini menceritakan kesenjangan narasi antara Outlast pertama dan kedua.
Seri Outlast Jadi Salah Satu IP Baru Tersukses
Membangun studio game sendiri tentu sangat berat bagi tiga sekawan ini. Apalagi dengan tim yang sedikit, mereka harus berjibaku dengan waktu. Hasilnya, mereka sempat kesulitan dalam menggarap Outlast 2. Morin mengatakan jika waktu maksimum mengerjakan Outlast 2 sebenarnya dua tahun. Tapi kemudian proyek ini molor hingga tiga tahun.
“Kami terus mendorong waktu sebisa mungkin. Ini adalah pertama kalinya dalam karier kami memegang kendali penuh atas apa yang kami pikirkan. Awalnya kami punya target dua tahun dan maksimal dua setengah tahun. Tapi akhirnya molor hingga tiga tahun. Saya mengatakan, tiga tahun adalah maksimum,”
Philippe Morin – Red Barrels Founder
BACA JUGA: 5 Console Game Paling Tidak Laku dalam Sejarah
Tercatat per 14 Mei 2018, Outlast sudah terjual sebanyak 15 juta unik dan menjadikannya IP baru paling populer dari studio indie dalam kurun waktu satu decade. Sebanyak US$46 juta didapatkan Red Barrels dari penjualan ini atau CAD$45 juta setelah distributor memotong keuntungan tersebut. Yang lebih gila adalah keuangan mereka sempat nol ketika Outlast diluncurkan untuk PC. Magic!!!
Dari kesulitan-kesulitan dan tekad yang hadir, Red Barrels bisa menjadi contoh bagaimana pengembang indie bersaing di tengah kerasnya persaingan game saat ini.
