Review Death Stranding – Istimewa Bagi Gamer yang Gemar Berbuat Kebaikan

Death Stranding adalah game yang sulit "dijual", tapi bagi orang yang tepat, ada daya tarik tersendiri yang akan membuatnya istimewa.


Death Stranding | Featured

Death Stranding bisa dibilang merupakan game yang paling banyak dinanti orang di tahun 2019. Sejak pertama kali diungkap dalam acara E3 2016 lalu, karya Hideo Kojima ini telah membuat banyak gamer kebingungan, penasaran, gembira, dan heboh, namun ada juga yang skeptis. Apalagi Kojima menggembar-gemborkan bahwa Death Stranding adalah sesuatu yang baru, beda dari game lain yang sudah ada. Memangnya sebagus apa sih? Kamu pun, mungkin bertanya seperti itu.

Setelah menghabiskan 61 jam lebih untuk menamatkannya, yang Gimbot bisa katakan tentang Death Stranding adalah bahwa game ini benar-benar “A Hideo Kojima Game”. Sebuah game yang hanya bisa dibuat oleh Hideo Kojima, dengan segala imajinasi liar dan ide gilanya. Kojima seolah mengekspresikan seluruh isi kepalanya, tanpa terhalang oleh perintah eksekutif korporat, deadline, bahkan anggaran.

Memang Gimbot tidak tahu pasti bagaimana proses pembuatannya di balik layar, tapi Death Stranding benar-benar terasa seperti itu. Masalahnya, apakah “A Hideo Kojima Game” otomatis berarti game ini bagus? Belum tentu. Tergantung, kamu orang seperti apa.

Jadi, Ini Game Tentang Apa?

Death Stranding bercerita tentang dunia di masa depan, setelah sebuah bencana supernatural yang membuat umat manusia terdorong ke tepi kepunahan. Bencana itu, yang disebut “Death Stranding”, terjadi ketika perbatasan antara dunia dan akhirat memudar. Makhluk-makhluk gaib yang disebut BT (Beached Things) bermunculan, membawa kehancuran di mana-mana, dan kini umat manusia harus hidup di bawah bayang-bayang ketakutan.

Tidak ada lagi negara, tak ada pemerintahan, manusia kini tinggal di pemukiman-pemukiman kecil dan terpencil tanpa saling berinteraksi. Tapi bagaimanapun juga manusia tetap tak bisa hidup sendiri. Mereka butuh makanan, obat-obatan, dan peralatan yang mungkin hanya bisa didapatkan dari orang lain. Di dunia yang porak-poranda ini peran kurir menjadi penting, dan Sam Porter Bridges adalah salah satunya.

Sebagai Sam, kamu akan menerima berbagai permintaan untuk mengantar barang-barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Tapi misi Sam tak hanya itu. Ia juga mendapat mandat dari pemerintah Amerika—yang sedang lumpuh—untuk mendirikan jaringan komunikasi bernama chiral network. Harapannya, bila seluruh kota penting telah terhubung dengan jaringan ini, Amerika bisa berdiri lagi sebagai sebuah kesatuan.

Kira-kira demikianlah premis cerita dalam Death Stranding. Secara konsep mungkin terdengar simpel, tapi imajinasi Hideo Kojima tidak pernah sesimpel itu. Seiring kamu menghubungkan Amerika dari ujung timur ke ujung barat, berjuta misteri akan terkuak dan problem yang muncul akan semakin membesar. Dan ketika kamu akhirnya tiba di ending, kamu akan lupa bahwa 60 jam lalu game ini adalah “game tentang mengantar barang”.

Percaya Pada Hideo Kojima

Kojima sekali lagi berhasil menciptakan cerita yang sangat dalam dengan berbagai lapisan konflik. Ini bukan hanya tentang menyatukan Amerika, tapi juga tentang pergolakan batin dalam diri Sam, fenomena spiritual besar-besaran, hingga konspirasi dan manipulasi sejarah. Penggambaran cerita tersebut kemudian ditopang oleh performa aktor-aktor hebat seperti Norman Reedus, Mads Mikkelsen, Troy Baker, dan Lindsay Wagner, membuat kita tenggelam dalam arus emosi yang sebagian besarnya terdiri dari tragedi, tapi juga sarat akan harapan.

Kualitas visual yang dihasilkan oleh Decima Engine harus Gimbot acungi empat jempol. Di samping detail lingkungannya yang begitu indah dan realistis, para aktor pun mampu ditampilkan dengan ekspresi yang luar biasa manusiawi. Rasanya seolah-olah melihat langsung para aktor itu saling berinteraksi langsung di depan mata.

BACA JUGA: [RUMOR] Bentuk DualShock 5 Tersebar, Lebih Gemuk dan Padat!

Khas Hideo Kojima, Death Stranding sarat akan cutscene yang panjang dan padat, jadi kamu yang menggemari aktor-aktor di atas akan merasa benar-benar dimanja. Kalau kamu membuka YouTube dan mencari video berisi seluruh cutscene dalam game ini, durasinya bisa mencapai 11 jam lebih! Sudah cukup untuk dijadikan serial Netflix, jadi sebaiknya kamu selalu siap camilan kala memainkannya.

Kalau kamu sudah main Death Stranding selama beberapa jam dan merasa ceritanya biasa saja, tidak seheboh yang Gimbot deskripsikan di atas, itu wajar. Game ini terdiri dari 14 chapter (plus 1 chapter post-game), dan selama delapan chapter pertama kamu akan lebih banyak bertemu pertanyaan daripada jawaban. Tapi begitu menginjak chapter 9, tensi akan jauh meninggi dan permainanmu akan lebih penuh aksi.

Memang Death Stranding memiliki masalah dalam hal pacing cerita, tapi menurut Gimbot bila kamu mau sabar maka imbalannya akan sangat memuaskan. Percaya saja pada Hideo Kojima dan rasakan sendiri pengalamannya sampai akhir. Kamu akan menemukan bahwa memang benar, Death Stranding adalah sesuatu yang berbeda, dan mungkin saja, game ini akan jadi kenangan spesial dalam hidupmu.

“We Are All Connected.”

Sebagus apapun cerita dalam Death Stranding, tentu tidak ada artinya bila gameplay yang disajikan tidak menyenangkan. Di sinilah Death Stranding benar-benar divisive, artinya sebagian orang akan sangat menyukainya sementara sebagian lainnya pasti akan langsung bosan.

Gameplay inti dalam Death Stranding adalah mengantar barang, tapi proses ini lebih rumit dari kedengarannya. Barang apa yang diantar, ke mana barang itu diantar, bagaimana kamu mengantar, serta untuk apa dan untuk siapa, memberikan konteks berbeda-beda sehingga misi tidak terasa membosankan (kecuali misi sampingan yang memang ada untuk grinding saja).

Berada di dunia post-apocalypse artinya akses infrastruktur sangat terbatas, sehingga kamu harus siap menghadapi segala medan untuk menyelesaikan permintaan klienmu. Gunung yang terjal, sungai yang deras, hingga hujan asam yang merusak, adalah sebagian dari banyaknya tantangan yang akan kamu hadapi.

Musuh utamamu di game ini adalah alam, dan Death Stranding menuntutmu untuk berpikir kreatif menghadapinya. Kamu perlu membuat perencanaan yang baik sebelum menjalani misi, memperkirakan beratnya medan lewat peta tiga dimensi, kemudian menentukan sebanyak apa barang yang bisa kamu kirim serta perlengkapan apa saja yang perlu kamu bawa.

Semakin banyak barang yang kamu bawa, artinya kamu bisa menyelesaikan lebih banyak misi dalam sekali jalan. Tapi itu juga akan membuat perjalananmu lebih berat. Tubuh Sam akan lebih susah dikendalikan, kecepatan berjalannya jadi lebih rendah, dan staminanya akan lebih cepat habis. Sementara kamu harus menyediakan ruang untuk perlengkapan seperti tangga, tali, senjata, atau gadget elektronik untuk persiapanmu menempuh medan. Pertimbangan antara risk dan reward ini membuat Death Stranding lebih terasa seperti game puzzle dibanding action.

Seiring kamu semakin banyak mengantar barang dan menghubungkan kota-kota dengan chiral network, jenis perlengkapan, infrastruktur, serta kendaraan yang dapat kamu akses akan semakin banyak. Rasanya menyenangkan sekali melihat Amerika perlahan-lahan tumbuh, dari medan terjal bergunung-gunung jadi negara yang terhubung dengan mudah dari satu tempat ke tempat lain.

Uniknya, meskipun kamu berperan sebagai kurir yang solo karier, selama bermain Death Stranding kamu tidak pernah merasa benar-benar sendirian. Dengan terhubung ke internet, kamu akan bisa mengakses segala hal yang ditinggalkan oleh pemain lain, baik itu peralatan, penanda jalan, hingga kendaraan. Sebaliknya, hal-hal yang kamu tinggalkan pun bisa diakses pemain lain.

Meskipun kamu tidak pernah bertemu muka dengan pemain lain, kamu akan selalu merasa terhubung dengan mereka, dan hal ini memberikan perasaan bahagia yang menurut Gimbot unik dalam Death Stranding. Game ini mengingatkan kita betapa menyenangkan rasanya menerima bantuan walaupun kecil, juga sebaliknya, betapa bahagianya bisa memberi bantuan kepada orang lain. “We are all connected,” adalah slogan yang cukup sering diucapkan dalam game ini, dan menurut Gimbot slogan tersebut sangat pas.

Masih Cukup Banyak Aksi

Alam adalah musuh utamamu dalam Death Stranding, tapi bukan musuh satu-satunya. Kamu juga akan bertemu musuh dalam wujud manusia maupun “hantu” BT, dan untuk menghadapi mereka semua game ini menyediakan pilihan senjata yang cukup banyak. Tidak sampai sebanyak Metal Gear Solid V: The Phantom Pain memang, tapi untuk game yang tema utamanya adalah mengantar barang variasinya sudah luas sekali.

Game ini juga mengandung unsur stealth, tapi bila sedang berhadapan melawan manusia maka stealth itu akan terasa tidak begitu efektif. Stealth lebih penting ketika sedang berhadapan dengan BT, karena makhluk-makhluk gaib tersebut tidak bisa dilihat dengan mata telanjang dan bisa membunuhmu dengan sekali sentuh. Banyaknya variasi senjata/alat akan membuatmu punya banyak pilihan gaya main, termasuk agresif seperti Rambo atau menghindari pertarungan sama sekali.

Ketegangan aksi ini akan semakin memuncak ketika kamu mencapai titik-titik tertentu dalam cerita. Penggemar Metal Gear Solid tentu paham bahwa seri tersebut punya banyak sekali pertarungan bos yang berkesan, dan karakteristik yang sama dalam Death Stranding tetap ada. Ingat juga bahwa game ini bukan hanya fiksi ilmiah tapi punya tema supernatural yang kuat. Silahkan bayangkan sendiri seperti apa keunikan boss fight yang mungkin muncul. Atau lebih baik lagi, langsung mainkan saja.

Kesimpulan

Agak sulit bagi Gimbot meyakinkan orang lain untuk beli Death Stranding kalau dia belum tertarik dari awal. Dipikir secara logika, game yang sebagian besar waktunya kita habiskan hanya untuk berjalan mengantar barang dari satu tempat ke tempat lainnya sama sekali tidak terdengar menarik. Begitu pula dengan game yang bermasalah dalam hal pacing cerita. Daripada memainkan game yang baru terasa seru ketika sampai di sepertiga akhir, bukankah lebih baik membeli game yang sudah seru sedari awal?

Berpikir seperti itu sama sekali tidak salah. Tapi ibaratnya begini: orang yang berhenti menonton Puella Magi Madoka Magica di episode delapan, tidak akan merasakan keseruan klimaks cerita anime tersebut yang ada di episode dua belas. Dan kalau kamu familier dengan kultur pop Jepang, mungkin kamu tahu bahwa Puella Magi Madoka Magica, walaupun baru seru di akhir, pada akhirnya berhasil jadi anime legendaris yang dicintai banyak orang.

Death Stranding kira-kira sama seperti itu. Mungkin sebagian orang tidak akan cukup sabar memainkannya dan memilih untuk berhenti di tengah-tengah. Tapi bagi orang-orang yang tepat, game ini punya daya tarik yang akan membuat mereka betah memainkan berlama-lama. Kemudian setelah sampai di titik akhir tersebut, imbalan yang diberikan akan sangat memuaskan dan mereka akan mencintai game ini tak peduli apa kata orang lain.

Pada akhirnya, kembali ke awal ulasan tadi, game ini paling tepat dideskripsikan sebagai sebuah game yang “Hideo Kojima banget”. Kalau kamu menyukai gaya game yang selama ini dibuat Kojima, kemungkinan besar kamu juga akan menyukai Death Stranding. Kalau tidak, maka kemungkinan game ini juga tidak akan cocok untukmu.

Terlepas dari gamer seperti apa pun kamu, Gimbot rasa Death Stranding adalah game yang layak untuk kamu coba mainkan sampai tamat. Mungkin kamu akan suka, mungkin juga tidak. Tapi setidaknya Death Stranding adalah sesuatu yang baru, yang berani mengambil risiko demi menyampaikan pesan untuk dunia. Dan pesan itu, menurut Gimbot, adalah pesan yang perlu didengar oleh semua orang.


Ayyub Mustofa

Jarang main game sampai tamat kecuali untuk review. Menyukai hampir semua genre, dan hingga kini masih menunggu kemunculan Megaman X9.