Fortnite World Cup Finals Mencetak Sejarah Baru dalam Dunia Esports


Fortnite World Cup Finals berhasil mencetak sejarah baru di industri esports

Sumber Dexerto

Fortnite World Cup Finals adalah turnamen terbesar Fortnite yang pernah diadakan oleh Epic Games. Sejauh perjalanan panjang turnamen Fortnite yang pernah diadakan, event ini adalah yang terbaik.

BACA JUGA: Ubisoft Berikan Detail Terbaru Watch Dogs Legion

Bertajuk The Greatest Tournament of All Time, Fortnite World Cup Finals menghadirkan turnamen yang mempertemukan para pemain terbaik di seluruh dunia untuk bersaing satu sama lain mendapatkan hadiah senilai 30 juta dollar. Event ini sendiri berlangsung di selama tiga hari di Arthur Ashe Stadium, New York.

Beberapa event yang terselenggara adalah Fortnite Fan Festival yang menghadirkan taman hiburan mini yang penuh dengan kegiatan dan karakter favorit Fortnite. Pengunjung dapat berfoto dengan karakter seperti Durr Burger, Pizza Pit, dan DJ Yonder serta memakai item cosmetic yang biasa ditemui di dalam game. Mirip seperti Disneyland tapi dengan cita rasa Fortnite.

Alasan utama mengapa event ini begitu mengesankan adalah hilangnya batasan yang ada antara dunia nyata dan dunia game. Lihat saja bagaimana pengunjung dapat memainkan Battle Pass yang menginstruksikan mereka untuk mengerjakan beberapa aktivitas dengan mengunjungi beberapa tempat. Hadiahnya adalah koin V-Bucks dan skin khusus World Cup.

Lalu, ada Fortnite Pro Am yang memperlihatkan aksi 50 selebriti dan 50 pemain pro di mana mereka berpasangan untuk saling bertarung memperebutkan 3 juta dollar. Nama-nama besar seperti Ninja, Jack “CouRage” Dunlop, Nick “Nickmercs” Kolcheff, Benjamin “DrLupo” Lupo, dan Marshmello pun turut menyemarakkan event ini. RL Grime dan pemain pro League of Legends Karim “Airwaks” Benghalia keluar sebagai pemenangnya.

Selanjutnya, ada Fortnite World Cup Creative yang menampilkan pertandingan 8 tim yang terdiri dari 4 pemain untuk saling berlomba menamatkan beberapa game Creative ala Fortnite, yaitu death runs. Sesi pertama, pemain dapat respawn dan mencoba beberapa kali. Tetapi di kesempatan kedua, semua pemain hanya diberi satu kesempatan. Fish Fam yang terdiri dari cizzorz, TylerH, Suezhoo and zand menjadi pemenangnya.

Tentu saja hidangan utama dari turnamen ini adalah kompetisi sesungguhnya yang dilombakan secara duos dan solo. Seperti biasa, setiap pemain akan saling berkompetisi dalam enam game dengan total 100 pemain. Mereka akan saling berlomba untuk mendapatkan poin berdasarkan peringkat posisi dan jumlah eliminasi.

Yang menarik adalah seleksi untuk mengikuti turnamen ini terbuka bagi siapa pun. Terdapat lebih dari 40 juta pemain yang saling bersaing di babak kualifikasi selama 10 minggu sebelumnya. Akhirnya, terkumpulah 100 pemain terbaik untuk memperebutkan posisi pertama.

Hampir semua game dimainkan secara intens dan begitu kompetitif. Berbeda dengan sebelumnya yang menampilkan kebanyakan pemain hanya berdiam diri untuk mengamankan posisinya.

Rata-rata usia pemain yang terdiri dari 30 negara adalah 16 tahun, dengan usia paling muda adalah 13 tahun di mana pemain tertua berusia 24 tahun.

Sesuai peraturan, pertandingan dilakukan sebanyak enam game. Setiap game akan dihitung berdasarkan poin. Victory Royale bernilai 10 point, posisi 2nd – 5th bernilai 7 poin, posisi 6th – 10th bernilai 5 poin, dan posisi 11th – 15th bernilai 3 poin.

Jika seri maka penentuan pemenang akan dibandingkan dalam urutan mulai dari total poin, total Victory Royale tiap sesi, jumlah rata-rata eliminasi tiap sesi, peringkat posisi tiap sesi, dan terakhir dengan koin.

Turnamen duos sendiri dimenangkan oleh Emil “Nyhrox” Bergquist Pedersen dan David “aqua” Wang. Mereka berhak mendapatkan 3 juta dollar.

Yang paling ramai dibicarakan adalah turnamen solo yang menampilkan banyak talenta muda baru. Nama-nama besar seperti Tfue, Mongraal, Bizzle, serta beberapa pemain dari tim dengan kualitas esports sekaliber FaZe, Ghost, TSM bahkan tidak ada di peringkat 10 besar.

Kyle “Bugha” Giersdorf adalah salah satu pemain muda yang mencuri perhatian karena berhasil memenangkan solo dan mendapatkan 3 juta dollar untuk dirinya sendiri.

Tidak ada yang spesial sebenarnya dari Bugha. Toh, semua pro player Fortnite pasti memiliki skill shooting dan editing jauh di atas rata-rata pemain biasanya. Suatu hal yang sudah wajar.

Namun, yang membuat Bugha mendominasi solo final adalah kecerdasannya mengamankan poin di game pertama sembari memperhitungkan semua poin di setiap game.

Game pertama menyajikan pertarungan akhir yang sangat intens. Dalam sekejap ketika lingkaran sudah mengecil, di sekitar Neo Tilted langsung penuh dengan bangunan material. King sempat memimpin jumlah eliminasi setelah membunuh tujuh pemain sebelum akhirnya dihabisi oleh EpikWhale.

Bugha sendiri berhasil membunuh Rhux dan Pslam secara berturut-turut sebelum akhirnya melawan Kreo dalam satu lawan satu. Kreo memiliki keunggulan karena berada dalam posisi high ground. Sedangkan, Bugha di bawahnya.

Di sinilah, kemampuan pemain Fortnite diuji. Sejatinya, penempatan posisi di ground ketika lingkaran terakhir sangat tidak menguntungkan karena pemain akan kesulitan untuk membangun bangunan. Terutama ketika harus menghancurkan bangunan pemain lainnya yang telah ada sebelumnya.

Bugha dengan pintar memainkan timing dan menggunakan Shockwave Grenade untuk melompat ke atas dan berhadapan langsung dengan Kreo. Salah sedikit perhitungan, Bugha bisa saja gagal karena terbentur atap bangunan. Dengan mendapatkan momentum, Bugha berhasil membunuh  Kreo dan mengamankan Victory Royale dengan jumlah eliminasi sebanyak sembilan orang.

Leaderboard langsung menampilkan Bugha di posisi pertama. Selanjutnya, perhatian seluruh penonton terpaku pada Bugha untuk melihat aksinya. Nyatanya, sampai dengan game ke-6, Bugha tidak mendapatkan kemenangan.

Dengan menempatkan posisi hampir di lima besar di beberapa game dan jumlah eliminasi yang cukup, posisi Bugha tidak bergeming sedikit pun dari peringkat pertama. Bugha sukses mengumpulkan 59 poin dan berhak mendapatkan prize sebesar 3 juta dollar. Sesuatu yang mengagetkan untuk remaja berumur 16 tahun.

Meski event ini sempat ternodai dengan kecurangan yang dilakukan oleh Damion “Xxif” Cook saat babak kualifikasi. Toh, keramaian pecah dan penonton bersorak ramai saat layar menampilkan Xxif dieliminasi dari pertandingan.

Turnamen Fortnite sebelumnya lebih parah karena banyaknya kendala mulai masalah teknis, kualitas produksi yang buruk, dan masalah pada layar. Bahkan event Summer Skirmish sempat dibatalkan di tengah jalan karena lag.

Menarik untuk melihat ke arah mana Fortnite akan bergerak selanjutnya. Jadwal Fortnite sendiri sangat padat sebelum event ini, sebelumnya mereka baru saja menampilkan live event spektakuler ketika monster kaiju berhadapan dengan robot dan minggu depan, Season 10 akan bergulir.

Fortnite sendiri telah menjadi game terbesar yang pernah ada di dunia berkat kepopuleran battle royale. Tercatat, sampai dengan Maret 2019 lalu, terdapat lebih dari 250 juta pemain aktif yang memainkan Fortnite.

Melalui Fortnite World Cup Finals, Epic begitu sempurna merancang turnamen terbesar Fortnite sebagai event terbaik mereka yang pernah ada. Seolah mereka ingin menegaskan bahwa Fortnite adalah sejarah baru bagi dunia esports yang menampilkan salah satu pertandingan kompetitif battle royale terbaik dengan warna khas yang berbeda.


Aria

Game Enthusiast yang jatuh cinta dengan dunia industri gim dan game development. Gim favorit yang dimainkan adalah Gears of Wars, State of Decay, Warframe, The Uncharted.